Apapun Alasannya, Generasi Milenial Tidak Cocok dengan Perjodohan!

Ini bukan lagi jamannya Siti Nurbaya

Mungkin kamu pernah mendengar cerita-cerita orang tua tentang perjodohan yang sering dilakukan pada jaman mereka, atau bahkan yang terjadi kepada orang tuamu. Perjodohan seakan menjadi hal “biasa” yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya, utamanya mereka yang memasuki usia remaja dan dewasa. Mulanya perjodohan ini marak terjadi di lingkungan kerajaan, hingga akhirnya menyebar ke kalangan masyarakat biasa.

Baca juga : Polyamory, Cara lain Merasakan Bahagia dalam Menjalin Hubungan Cinta

Perjodohan kaum millenial (mediasemarangonline.com)

Perjodohan ini merupakan sebuah norma di seluruh dunia hingga abad ke 18. Faktanya, dewasa ini perjodohan belum benar-benar menghilang dan bahkan tak akan pernah bisa hilang. Perjodohan ini bisa karena adat, budaya maupun agama.

Kata orang tua, perjodohan tak membutuhkan rasa cinta. Karena cinta akan tumbuh setelah kedua insan disatukan dalam satu ikatan. Mungkin ada benarnya, melihat kedua orang tua yang dulu sama sekali tak mencintai, bahkan tak mengenal satu sama lain saat dipertemukan, kini hidup bahagia tak bisa dipisahkan. Tapi apakah perjodohan ini cocok diterapkan untuk kaum milenial?

Perjodohan identik dengan nikah muda

Pasti udah pada paham kan, kebanyakan orang tua yang dijodohkan langsung menikah bahkan ketika usia mereka masih belasan tahun. Tradisi nikah muda ini sangat populer dulu. Bahkan, seorang perempuan yang belum juga mendapatkan jodohnya ketika masuk usia awal 20an, dianggap tidak laku dan menjadi “aib” bagi keluarga.

Perjodohan identik dengan nikah muda (youtube.com)

Padahal, nikah muda penuh dengan resiko. Mulai dari reproduksi yang dianggap belum matang, hingga masalah ekonomi yang sering menjadi masalah pelik dalam rumah tangga. Di jaman yang semakin sulit ini, kaum millenial setidaknya harus mampu memenuhi kebutuhannya sendiri sebelum menuju pernikahan.

Dan ketika jaman sudah semakin bergeser, target usia pernikahan pun perlahan mulai berubah. Rata-rata kaum millenial memilih usia 20 hingga 30an sebagai usia ideal pernikahan.Dan di usia matang ini kaum millenial biasanya sudah mulai lepas dari orang tua hingga mampu mencari pasangannya sendiri. Meskipun masih ada juga yang menikah di usia belasan tahun.

Karena pernikahan adalah “kerjasama”

Setelah menikah, kehidupan rumah tangga dan seabrek masalahnya menjadi tanggungjawab berdua. Tentu, ini membutuhkan kerjasama solid antara suami istri. Kepercayaan, komunikasi, pengertian dan juga cinta menjadi alat utama untuk menciptakan kerjasama yang baik dan menyenangkan dalam pernikahan.

Pernikahan adalah kerjasama (hipwee.com)

Bukankah akan lebih menyenangkan bekerjasama dengan orang yang sudah dikenal sebelumnya? Dan akan jauh lebih menyenangkan jika kamu bisa bekerjasama dengan orang yang memang ingin kamu ajak bersama.

Belum siap dengan komitmen

Entah benar atau tidak, perjodohan identik dengan “pemaksaan”. Sebelum memutuskan untuk menikah, seseorang pasti menimbang-nimbang lagi apakah pasangannya orang yang setia, apa kalian saling cinta atau apakah dia bisa diajak bersama hingga tua. Berbagai pertimbangan ini tentu tak bisa dipikirkan oleh mereka yang dijodohkan. Karena apapun penilaiannya, jodoh sudah ditentukan. Bersyukur jika bisa menolak.

Belum siap dengan komitmen yang cenderung “dipaksakan” (A Girl Thoughts)

Karena kaum millenial penuh dengan pertimbangan, perjodohan sama sekali tak cocok dengan mereka. Dan apabila tetap dipaksakan, bukan tidak mungkin pernikahan justru berakhir dengan perceraian.

Tapi meskipun begitu, tak bisa dipungkiri ada juga yang bahagia dengan perjodohan bahkan hidup langgeng hingga sekarang. Sekali lagi, jodoh nggak ada yang tau. Kamu setuju nggak sih dengan perjodohan?

Bagaimana Menurutmu?

Written by Erinda

“You can if you think you can”

Kontroversi “Eta Terangkanlah” yang Sedang Viral, Parodi Kreatif Atau Justru Kebablasan?

Kalau Saya Boleh Bercanda Sedikit, LDR Itu Sama Tragisnya dengan Jomblo