Menuliskan Gelar Akademis di Undangan Pernikahan: “Kamu Mau Nikah Apa Seminar?”

Lantas, apakah mempelai yang tak menyertakan gelar akademis bisa dianggap paling sopan?

Kalau saja tak viral di media sosial, tak ada seorang pun yang akan tahu bahwa yang menikah beberapa waktu lalu adalah putri satu-satunya Presiden Jokowi. Alasannya sederhana, dalam undangan pernikahan itu, hanya tertulis ‘Kahiyang dan Bobby’ tanpa embel-embel gelar akademis. Begitu juga ayah dan ibunya. Ya.. untuk urusan kesederhanaan, Pak Jokowi memang juaranya.

Undangan pernikahan Kahiyang dan Bobby yang tanpa embel-embel gelar akademis. | kumparan.com

Setelah peristiwa ‘ganjil’ tersebut, saya kok jadi berpikir, apakah kita lantas bebas nyinyir kepada mereka yang dengan sengaja dan sadar menuliskan gelar akademis dalam undangannya? Apakah mereka yang tak menulis gelar akademis bisa dianggap paling sopan, sedangkan mereka yang menulis gelar akademis dalam kartu undangan dianggap sebagai pribadi yang paling sombong?

Nikah atau seminar?

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin mengganggu setelah saya membaca sebuah status di Facebook, yang seolah mengampanyekan untuk berhenti menuliskan gelar akademis di surat undangan. Kalimatnya provokatif sekali, “lagi pula ya, sekali lagi, ini mau nikah lho.. bukan ngisi seminar”.

Untuk siapa pun yang menulis status itu, saya tekankan, bukankah yang kita pandang baik belum tentu baik juga di mata seluruh manusia di muka bumi ini?

Apakah mereka yang menuliskan gelar akademis di surat undangan pernikahan pantas disebut sombong? | jogjawedding.net

Jika sebuah atau bahkan sederet gelar akademis yang dicantumkan dalam surat undangan pernikahan diperoleh oleh seorang mempelai lewat beasiswa yang setengah mati dicairkan, lewat kerja keras siang dan malam, lantas.. apakah masih patut untuk disikapi dengan nyinyiran?

Lagi pula, menuliskan gelar di surat undangan bisa jadi pembuka pintu rezeki. Dengan mencantumkan gelar akademis, surat undangan berpotensi menghubungkan sang pengantin dengan tamu undangan yang sedang membutuhkan keahlian tertentu yang sesuai dengan gelar akademis itu. Bukankah semakin dikenal orang, maka semakin mudah pula pintu rezeki dibukakan Tuhan?

Tugas para undangan hanyalah datang

#SobatInovasee, kamu boleh saja tidak menuliskan gelar akademis di undangan pernikahan untuk menunjukkan kesederhanaan. Namun, jika hal itu dibarengi dengan kenyinyiran terhadap pihak yang bertentangan, justru bisa memancing kenyinyiran balasan yang menuding bahwa di balik kesederhanaan itu ada kegagalan-kegagalan dan dendam membara terhadap dunia akademis.

Tak menulis gelar akademis boleh, tapi jangan dibarengi dengan nyinyiran kepada pihak yang pro menuliskan gelar akademis di surat undangan. | thewedding.id

Maka, jalan paling manusiawi adalah dengan menghargai setiap keputusan seseorang. Menuliskan atau tidak menuliskan gelar akademis tentu didasari oleh pertimbangan yang berbeda-beda. Dengan atau tanpa gelar, pernikahan adalah wujud kebahagiaan. Bukan jaminan yang menulis gelar akan jauh lebih bahagia daripada mereka yang tidak menuliskannya. Begitu pun sebaliknya.

Dan tentu saja, pemilik hajat adalah pihak yang paling tahu dan paling berhak untuk menilai pantas atau tidak gelar dituliskan dalam undangan pernikahan. Tugas para undangan hanyalah datang dan menikmati pesta. Atau kalau tidak berkenan, jangan datang. Sesederhana itu, bukan?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *