Fenomena Polisi Cepek: Kadang Sebel, Kadang Butuh, dan Ternyata Menguntungkan

Sebaiknya, mereka ditertibkan atau justru diberdayakan?

Hampir di setiap kota manapun di negeri ini, kita bisa dengan mudahnya menemukan Polisi Cepek atau yang biasa dikenal juga dengan sebutan ‘Pak Ogah’. Melansir Wikipedia, Polisi Cepek adalah sebutan untuk orang-orang random (acak) yang berusaha ‘mengatur’ lalu lintas dengan imbalan uang seikhlasnya dari pengguna jalan.

Polisi Cepek biasanya sering kita jumpai di perempatan, pertigaan, jalan satu arah yang sangat sempit, jembatan yang hanya dapat dilalui satu mobil atau jalan berlubang. Tak jarang, pada suatu tempat kita bahkan menjumpai keberadaan Polisi Cepek yang berjumlah lebih dari satu orang.

Sisi menyebalkan

Terkadang, ada juga Polisi Cepek yang memaki atau membaret mobil orang karena tak diberi uang – terbitsport.com

Keberadaan Polisi Cepek terkadang memang menyebalkan. Pada beberapa kasus, Polisi Cepek justru membuat arus lalu lintas kian tersendat. Tak jarang mereka juga lebih mengutamakan kendaraan yang hendak berbelok atau berputar balik di U Turn meski antian kendaraan sudah amat padat di belakang, karena biasanya dari sinilah Polisi Cepek mendapatkan penghasilan utamanya. Parahnya, ada saja oknum Polisi Cepek yang sengaja membuka jalur atau U Turn yang ditutup meski sudah jelas-jelas dilarang melintas. Belum lagi jika tak diberi uang, kadang ada Polisi Cepek yang sampai memaki hingga nekat membaret kendaran orang dengan paku.

Kadang amat membantu

Beberapa daerah bahkan sengaja membayar Polisi Cepek karena lalu lintas kawasannya semrawut – jejakrekam.com

Kehadiran Polisi Cepek memang bagai dua sisi koin yang berlawanan. Meski kerap kali menyebalkan, namun mereka juga sering dibutuhkan, terutama di kawasan yang minim dengan rambu lalu lintas. Bahkan ada loh, Polisi Cepek yang memang dipekerjakan khusus oleh warga setempat karena daerah tersebut memiliki lalu lintas yang semerawut. Polisi Cepek juga terkadang membuat kita lebih mudah untuk menyeberang di saat arus lalu lintas teramat padat atau saat kendaraan tiba-tiba mogok di persimpangan. Tapi timbul lagi pertanyaan kita: dimanakah para Polisi lalu lintas yang seharusnya berperan di sini?

Menguntungkan?

Kalau kita mau mengamati, kita akan mendapati bahwa banyak sekali Polisi Cepek yang ternyata berbagi shift dengan sesama Polisi Cepek. Katakanlah si A mengambil waktu ‘kerja’ di pagi hari, maka si B akan mengambil giliran di malam hari. Itulah sebabnya kita sering melihat orang yang berbeda di jalan-jalan ber-Polisi Cepek yang kerap kita lewati.

Profesi ini dinilai menguntungkan hingga para pelakunya saling berbagi jatah waktu kerja – jakartakita.com

Sebenarnya tidak heran jika sampai ada pembagian jatah giliran semacam ini, karena menurut berbagai sumber, seorang Polisi Cepek bisa mendapatkan uang hingga ratusan ribu Rupiah sekali ‘berjaga’. Alhasil, profesi semacam ini tumbuh subur bak cendawan di musim hujan meskipun bisa berurusan dengan Satpol PP.

Diberdayakan oleh Polisi

Ada wacana menarik yang tengah mengemuka terkait keberadaan Polisi Cepek. Menurut kabar, Polda Metro Jaya telah berencana untuk merekrut sejumlah Polisi Cepek untuk dibina secara profesional. Artinya, mereka akan digaji khusus untuk membantu menertibkan lalu lintas. Dengan demikian, para Polisi Cepek tidak akan melanggar Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 yang berisi larangan untuk mengambil upah dari pengendara yang mereka bantu di jalan.

Terkadang, menjadi Polisi Cepek adalah pilihan yang mereka lakukan karena tak adanya lapangan pekerjaan yang mau menerima – gusong36.blogspot.com

Sayangnya hingga saat ini belum ada kelanjutan kabar terkait rencana ini, termasuk berapa jumlah orang yang direkrut dan lokasi mana saja yang akan menjadi sasaran operasi. Padahal, keberadaan Polisi Cepek bisa menjadi indikasi banyak hal, mulai dari absennya kurangnya peran Polisi lalu lintas, buruknya kesadaran berlalu lintas dari pengguna jalan, hingga minimnya lahan pekerjaan bagi mereka yang kurang beruntung.

Kalau proyek ini berhasil, bukan tidak mungkin daerah lain di luar Jakarta juga akan menirunya. Bagaimana pendapatmu?

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Jika Tahu Proses Pembuatan Saus Seperti Ini, Yakin Masih Mau Makan Saus Merk Sembarangan?

Meski Nggak Sehat, Ini yang Bikin Kamu Selalu Ketagihan Kentang Goreng di Restoran Cepat Saji