Fenomena Catcalling: Salah Satu Bentuk Pelecehan pada Perempuan yang Tak Boleh Dianggap Sepele

Bukan, catcalling bukan berarti panggilan untuk kucing…

397
SHARES

Buat kamu yang laki-laki, mari mengaku bersama. Pernahkah kamu menggoda cewek yang sedang melintas di jalanan? Entah karena terpana pada kecantikannya, atau sekedar ingin iseng belaka? Mulai dari gombalan “Hai cewek, sendirian nih?” hingga siul-siul nggak jelas untuk menarik perhatian lawan jenis. Saya sih, nggak pernah. Selain karena saya pemalu, hal semacam itu bisa dikategorikan sebagai street harassment (gangguan di jalan) dan pelecehan loh!

Mungkin, bagi kamu yang terbiasa melakukan hal semacam itu akan merasa saya maupun orang-orang yang bilang tindakan tersebut sebagai wujud pelecehan adalah orang-orang lebay dan kurang piknik. Tapi pernah nggak kamu mencoba untuk berada di posisi cewek yang mendapat perlakuan seperti itu?

Catcalling dan Social Experiment

Secara istilah, tindakan menggoda cewek di jalanan dengan cara-cara seperti yang saya sebutkan tadi biasa disebut dengan ‘catcalling’. Saat ini memang belum ada padanan kata untuk catcalling dalam Bahasa Indonesia, namun tindakan itu bisa diartikan sebagai lontaran ucapan dalam suara keras yang bisa bertendensi seksual macam bersiul, berseru, atau berkomentar kepada perempuan yang lewat di jalanan, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan pada diri si perempuan.

catcalling masih kerap dianggap hal biasa – putriwidisaraswati.wordpress.com

Hal ini nggak cuma dianggap lumrah oleh para lelaki di Indonesia, tapi juga nyaris di seluruh dunia. Salah kalau kamu mengira korban catcalling adalah para wanita yang memilih menggunakan pakaian terbuka saat bepergian, karena nyatanya, catcalling bisa menimpa wanita manapun, dengan pakaian apapun dan ras manapun. Sudah ada beberapa social experiment yang dilakukan para cewek untuk melihat sejauh apa dirinya akan menjadi objek catcalling saat berada di jalanan. Salah satunya adalah Kate Walton, cewek Australia yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia.

Social experiment Kate Walton – Twitter

Kate yang juga dikenal sebagai aktivis feminist ini sering mencuitkan kekesalannya pada fenomena catcalling, khususnya di Indonesia melalui Twitter. Ia pun lantas merancang sebuah eksperimen untuk melihat sejauh mana orang melakukan catcalling. Pada eksperimen pertamanya di bulan Januari lalu, ia menghitung telah mendapat 13 gangguan berupa catcalling sejak berjalan dari Pasar Mayestik menuju Plaza Senayan di Jakarta Selatan. Saat itu, perlakuan yang diterima Kate cukup beragam, mulai dari panggilan-panggilan, hingga ada yang terang-terangan mendatangi untuk meminta nomor teleponnya tanpa perkenalan terlebih dahulu.

Jika sebelumnya menerima 13 godaan sekali jalan, kali ini penggoda Kate turun jadi 6 orang. Tetap saja, ini menyedihkan – Twitter

 

Kate kembali mengulang eksperimen tersebut beberapa waktu lalu. Kali ini rutenya berbeda, dari Gandaria ke Blok M. Menurut cuitan Kate di Twitter, kali ini iya ‘hanya’ mendapatkan 6 gangguan sepanjang perjalanan. Kate pun berharap bahwa angka ini bisa terus ditekan hingga ke angka 0. Dari apa yang menimpa Kate, kita mungkin beranggapan bahwa penyebab utama ia mendapat catcalling adalah karena ia seorang wanita sekaligus orang asing yang masih sering dianggap ‘wow’ oleh bangsa kita (dasar mental inlander!). Padahal, cewek-cewek lokal dengan busana tertutup rapat dan memakai masker sekalipun juga kerap menjadi sasaran empuk orang-orang seperti itu.

Meski hanya ‘sebatas’ menggoda tanpa tindakan lebih, fenomena catcalling tidak boleh dibiarkan begitu saja. Seharusnya sudah mulai ada sanksi khusus bagi orang-orang yang melakukan catcalling. Buat kamu para lelaki yang masih doyan melakukan hal itu, mulailah berhenti melakukannya, karena lelaki sejati tentunya justru memuliakan wanita, sebagaimana seorang anak memuliakan ibunya~

397
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~