Maraknya Perang Opini demi Idola Berkedok Fans dan Haters di Sosial Media

Apa kamu juga pernah melakukannya?

Bagi seorang artis, media sosial bisa digunakan sebagai sarana untuk menjebatani dirinya dengan para penggemar. Dengan media sosial pula, segala aktivitasnya bisa dipamerkan dengan begitu mudahnya. Meski begitu, sekali saja dia mem-posting sesuatu di akun pribadinya, maka dia harus siap dengan bermacam-macam komentar, baik yang memuji atau pun yang mem-bully.

Baca juga : Jika Kamu Siap Jatuh Cinta, Maka Bersiaplah Juga Untuk Kecewa

Seorang artis harus siap menerima beragam komentar yang bermunculan di akun media sosialnya. | slidegossip.com

Fans terselubung

Mereka yang menjejali kolom komentar itulah yang kemudian kita sebut fans dan haters. Kedua kubu yang saling bertentangan, yang sebenarnya sangat penting untuk eksistensi seorang artis. Khusus untuk para haters, ada yang bilang kalau mereka adalah fans yang terselubung. Karena nyatanya, keberadaan mereka cenderung lebih eksis.

Pada kenyataannya, haters dari seorang artis cenderung lebih banyak ketimbang fans-nya. | refinery29.com

Haters biasanya lebih dulu tahu tentang gosip terkini dari artis yang mereka benci. Bahkan, meskipun menyulut emosi banyak orang, mereka tak segan-segan menjadi orang pertama yang berkomentar setiap kali si artis mem-posting sesuatu di media sosial.

Bulliying dan perang opini

Sebagai imbas dari maraknya fenomena fans dan haters, belakangan ini banyak bermunculan akun, grup, dan komunitas yang mengatasnamakan fans dan haters dari seorang artis. Bukan cuma memajang wajah si artis, mereka juga membagikan berita-berita terbaru seputar artis tersebut. Meme pun bermunculan, entah itu sebagai bahan sindiran maupun jelas-jelas bernada pujian.

Hal seperti ini sudah biasa terjadi di media sosial. | imgur.com

Maka, hukum sebab-akibat harus berlaku di sini. Sebagai imbas dari menjamurnya fans dan haters para artis, fenomena perang opini di media sosial pun tak bisa dibendung lagi.

Mereka yang berada di kubu haters akan menyerang habis-habisan artis yang dibenci dengan komentar-komentar bernada bulliying. Sebaliknya, mereka yang mengaku fans sejati akan memuji dan membela mati-matian sang idola dengan beragam argumen dan bukti-bukti.

Arus perdebatan yang memuakkan

Memang, tak semuanya komentar yang berseliweran itu berasal dari kalangan fans dan haters, karena ada juga hamba-hamba netral yang hanya ingin memberikan tanggapan tentang isu terkini dari seorang artis. Namun yang dikhawatirkan, banyaknya kata kotor yang sudah lebih dulu digunakan fans dan haters akan membuat mereka rentan terbawa arus perdebatan yang memuakkan.

Perdebatan yang memuakkan bisa saja menyeret mereka yang netral masuk ke dalam perang opini. | youtube.com

Oleh karena itu, terserah kalau kamu memang bercita-cita ingin menjadi fan atau hater dari seorang artis. Hanya saja, ingat bahwa sekarang sudah ada UU ITE yang membahas tentang aturan dalam menggunakan teknologi. Dan kalau kamu pikir komentar bisa dihapus dengan mudah, ingat bahwa the power of screenshot bisa menjerumuskanmu ke penjara kapan saja.

Jadi intinya apa? Jadilah seorang fan dan hater yang baik dan berbudi pekerti.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Memaafkan Afi Nihaya yang Kembali ‘Berulah’

Orang Tua Kejam, Hanya Gara-gara Sekotak Susu Tangan Anak Ini Digantung Orang Tua Angkatnya