Kekeliruan Lagu Lingsir Wengi Sebagai Pemanggil Kuntilanak, Inilah Sejarah dan Makna Sebenarnya

Jadi sebenarnya bukan lagu pemanggil kuntilanak yah!

Bagi penggemar film horor tentu tidak asing dengan lagu yang satu ini. Judul lagu berbahasa jawa ini memang terdengar ngeri, Lingsir Wengi. Dari mitos yang beredar di masyarakat, lagu lingsir wengi konon nyanyian yang mengandung mantra untuk memanggil mahluk halus, khususnya kuntilanak.

Baca juga : Jika Bukan yang Sering Kamu Doakan, Jodohmu Adalah Dia yang Mendoakanmu

Lagu lingir wengi dijadikan soundtrack film kuntilanak (dagelan.co)

Mitos ini pun banyak dipercaya, sampai-sampai lagu lingsir wengi digunakan sebagai soundtrack film horor berjudul kuntilanak. Lalu bener gak sih kalau lagu lingsir wengi itu nyanyian pemanggil setan? Inilah makna dan sejarah lagu lingsir wengi yang tidak banyak diketahui.

Lagu lingsir wengi banyak versi

Tidak banyak diketahui, jika lagu lingsir wengi yang ada saat ini ternyata memiliki beberapa versi. Di soundtrack film Kuntilanak lagu lingsir wengi menggunakan versi yang ini:

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet

Adapun makna dari versi tersebut ialah:

Menjelang malam, dirimu (bayangmu) mulai sirna
Jangan terbangun dari tidurmu
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa maut

Sedangkan lagu lingsir wengi yang lain sedikit lebih panjang liriknya.

Lingsir Wengi

Lingsir wengi
Sepi durung biso nendro
Kagodho mring wewayang
Kang ngreridhu ati

Kawitane
Mung sembrono njur kulino
Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno

Nanging duh tibane aku dewe kang nemahi
Nandang bronto
Kadung loro
Sambat-sambat sopo

Rino wengi
Sing tak puji ojo lali
Janjine mugo biso tak ugemi

dan inilah arti dari lagu lingsir wengi versi yang lain:

Menjelang Tengah Malam

saat menjelang tengah malam
sepi tidak bisa tidur
tergoda bayanganmu
di dalam hatiku

permulaanya
hanya bercanda kemudian terjadi
tidak mengira akan jadi cinta

kalau sudah saatnya akan terjadi pada diriku
menderita sakit cinta(jatuh cinta)
aku harus mengeluh kepada siapa

siang dan malam
yang saya cinta jangan lupakan ku
janjinya kuharap tak diingkari.

Ada juga versi yang satu ini:

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno

Ojo tangi nggonmu guling

Awas jo ngetoroAku lagi bang wingo wingo

Jin setan kang tak utusi

Dadyo sebarang

Wojo lelayu sebet

Ini makna dalam bahasa Indonesia:

Menjelang malam, dirimu(bayangmu) mulai sirna…
Jangan terbangun dari tidurmu…
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)…
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa mau

Lagu lingsir wengi sebagai media dakwah Sunan Kalijaga

Bagi umat Islam di Indonesia tentu tidak asing dengan kiprah Walisongo (sembilan wali) sebagai juru dakwah yang menyebarkan agama Islam di Nusatara, khususnya pulau Jawa. Dari salah satu Walisongo yang ada di tanah Jawa, Sunan Kalijaga atau yang bernama asli Raden Said kerap menggunakan kesenian sebagai sarana dakwahnya.

Inilah fakta lagu lingsir wengi

Sunan Kalijaga menggunakan kesenian wayang, musik, dan gamelan untuk menyampaikan dakwahnya kepada penduduk tanah Jawa. Salah satu hasil karya Sunan Kalijaga yang berbentuk nyanyian ialah lagu Lir-ilir, Sluku-sluku batok, dan beberapa tembang macapat lainnya. Termasuk lagu lingsir wengi.

Lagu lingsir wengi diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai media dakwah dengan memakai salah satu pakem gending jawa, yakni pakem macapat. Pakem macapat sendiri terdiri dari sebelas pakem yang salah satunya pakem Durma, pakem Durma inilah yang digunakan di lagu lingsir wengi sehingga alunannya cenderung lembut, tempo pelan, dan sangat menyayat hati.

Lagu lingsir wengi dibuat Sunan Kalijaga sebagai media dakwah (historia.id)

Pada zaman Sunan Kalijaga, lagu lingsir wengi merupakan bentuk doa tolak bala. Biasanya Sunan Kalijaga menyanyikan lagu ini setelah sholat malam. Tujuannya untuk mengusir hal-hal buruk, gangguan mahluk gaib, dan meminta pertolongan kepada Sang Pencipta.

Ini lirik lingsir wengi yang asli versi Sunan Kalijaga:

Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

Dan inilah maknanya yang cukup dalam.

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan.

Hatiku Adam dan otakku nabi Sis.
Ucapanku adalah nabi Musa.
Nafasku nabi Isa yang teramat mulia.
Nabi Yakup pendenganranku.
Nabi Daud menjadi suaraku.
Nabi Ibrahim sebagai nyawaku.
Nabi sulaiman menjadi kesaktianku.
Nabi Yusuf menjadi rupaku.
Nabi Idris menjadi
rupaku.
Ali sebagai kulitku.
Abubakar darahku dan
Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia.
Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku.
Nanti nabi Ayub ada didalam ususku.
Nabi Nuh
didalam jantungku.
Nabi Yunus didalam otakku.
Mataku ialah Nabi
Muhamad.

Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

Bagaimana, Jadi lagu lingsir wengi jelas-jelas bukan lagu mistis pemanggil kuntilanak kan?

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Penikmat Dunia, Perindu Surga,

Ladies, Sebisa Mungkin Rahasiakan 5 Hal Ini Dari Pacarmu ya. Jangan Sampai Dia Tau!

5 Patung di Indonesia Ini Menuai Protes Karena Dianggap Seksi dan Juga Simbol Berhala