Jangan Menaruh Harapan Besar pada Sesama Manusia, Karena Kamu Pasti Akan Kecewa

So, keep your expectation low

Akan saya beritahu satu fakta memilukan. Banyak orang, termasuk saya, terlalu sering menaruh harapan besar kepada orang lain. Namun kenyataannya, yang namanya ekspektasi berlebihan itu juga terlalu sering membawa luka, merana, dan rasa kecewa. Itu, sekali lagi, kalau kita menaruh harapan besar kepada sesama manusia, bukan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca juga : Tak Perlu Lagi Pelet. Karena Sekarang, Jodoh Begitu Mudah Ditemukan di Internet

Menaruh harapan besar kepada sesama manusia hanya akan membawa luka, merana, dan rasa kecewa. | pexels.com

Contoh gampangnya seperti ini. Ketika kamu menaruh harapan besar dengan mempercayakan kebahagiaanmu kepada orang lain, sementara di saat yang sama dia tidak menjadikanmu sebagai bagian dari rencana hidupnya, bukankah itu teramat sangat menyakitkan? Saya tidak berbicara dalam konteks asmara saja, namun juga pada seluruh hubungan antar sesama manusia.

Menjaga harapan selalu rendah

Saya berani berkata seperti ini karena semakin bertambah usia (atau dewasa?), saya semakin yakin bahwa menjaga harapan selalu rendah itu merupakan hal yang benar. Bahwa dalam hidup, mencoba dan menjalani saja sudah sangat cukup, karena mengharapkan hasil yang berlebihan hanya akan membuat kita jatuh sejatuh-jatuhnya. Meski begitu, kita juga tidak boleh berhenti berharap, kan?

Ingatlah untuk selalu menjaga harapan selalu rendah. | pexels.com

Berharap itu boleh kok, baik malah. Hanya saja, letakkan harapan itu pada diri kita sendiri. Karena ketika kita merasa kecewa pada diri sendiri, tidak ada yang lebih baik selain kembali bangkit dan berusaha lagi. Setiap orang pernah salah, namun pada prakteknya, memaafkan diri sendiri selalu lebih mudah ketimbang memaafkan orang lain.

Membahagiakan diri sendiri

Ketimbang kamu berharap ingin selalu dibahagiakan oleh pasangan, mengapa tidak mencoba untuk membahagiakan dirimu sendiri? Kalau kamu bisa bahagia dengan cara dia mengirim chat duluan, mengapa kamu tidak melakukannya terlebih dulu sebagai bukti kalau dia begitu menarik perhatianmu?

Sadarkah kamu bahwa menghubungi dia lebih dulu adalah bukti kalau dia benar-benar menarik perhatianmu? | pexels.com

Kalau pada akhirnya kamu masih saja enggan melakukannya karena alasan gengsi, selamanya itu hanya akan menjadi alasan. Dan ketika kamu berpikir “kalau dia nggak bales dan saya malu, siapa yang mau tanggung jawab?” maka biarkan saya bertanya balik, “jadi.. kamu lebih milih untuk nggak mau ngambil resiko ketimbang melihat dia diambil orang?”

Kalau jawabanmu ‘iya’, berarti kita berbeda. Karena saya, selalu menganggap bahwa cinta itu butuh perjuangan. Saya memilih untuk tidak menjadi pengecut dalam urusan hati.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Dari Desa Janda, Sampai Desa Bisu, Inilah 7 Desa Terunik yang Hanya Ada di Indonesia

Perlukah Kita Memboikot Starbucks Karena Mereka Mendukung LGBT?