Mengenal Dave Jephcott, ‘Londo Kampung’ yang Fasih dan Cinta Bahasa Jawa

Coba dengar Dave berbahasa Jawa, bikin orang jadi ragu kalau dia betulan bule!

Indonesia diberkahi dengan keanekaragaman budaya yang tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Oleh karenanya, tak mengherankan jika Indonesia juga mempunyai ratusan bahasa daerah. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, sejak 1991 hingga 2017 telah teridentifikasi ada 652 bahasa dari 2.452 daerah pengamatan di Indonesia.

Sayangnya, pada tahun 2016 lalu juga dikabarkan ada 139 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah jika generasi penerus mulai tidak peduli dan enggan menggunakan bahasa daerah tersebut sebagai bahasa ibu di luar bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Uniknya, kekhawatiran ini turut dirasakan oleh Dave Jephcott, seorang ‘bule’ berdarah Australia yang cinta dan fasih menggunakan bahasa Jawa berdialek Jawa Timur.

Londo Kampung

Nama Dave sendiri sebenarnya mulai tak asing di telinga masyarakat Indonesia, khususnya bagi mereka yang senang menonton video-video di YouTube. Maklum, Dave yang mempunyai akun bernama ‘Londo Kampung’ ini punya 250 ribu subscriber dan statusnya verified. Bukan tanpa sebab jika Dave memilih nama Londo Kampung sebagai nama aliasnya di YouTube. Pasalnya, Dave memang hampir selalu menggunakan bahasa Jawa di dalam setiap video yang diunggahnya, meski terkadang juga diselipi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Bahkan tidak seperti kebanyakan bule lain yang fasih berbahasa Indonesia, aksen berbicara Dave betul-betul sempurna selayaknya orang Indonesia atau orang Jawa Timur asli! Hal ini ternyata dikarenakan Dave tinggal di Surabaya sejak usia dua tahun. Kala itu, Ayah Dave akan bekerja sebagai dosen di Surabaya sehingga keluarga Jephcott harus pindah ke Indonesia.

Belajar langsung dari anak kampung

Bersama kakaknya, Nathan, Dave menjalani home schooling selama tinggal di Indonesia. Uniknya, boleh dibilang ia dan Nathan belajar langsung tentang bahasa Jawa dari anak-anak kampung yang menjadi teman main mereka semasa kecil di Surabaya. Dave mengaku bahwa masa-masa itu amat menyenangkan, karena ia dan kakaknya turut berbaur bersama anak-anak kampung dan merasakan serunya permaian tradisional macam permainan kelereng, layangan, dan semacamnya.

Dave dan kakaknya saat bermain bersama anak-anak setempat (instagram)

Meski Dave dan Nathan merupakan bocah asal Australia, namun anak-anak kampung tersebut tidak membeda-bedakannya dan terus menjalin persahabatan hingga saat ini. Karena banyak bergaul dengan anak-anak setempat, Dave bahkan mulai mengenal lagu-lagu dangdut. Meski mengaku tak terlalu menyukainya, namun Dave berkata bahwa ia dan teman-temannya itu pernah mencoba mengaransemen lagu dangdut dan memainkannya dalam format band sehingga lebih menyenangkan.

Seperti kehilangan jati diri

Dave bercerita bahwa setiap dua tahun sekali, ia dan keluarganya akan kembali ke Australia sekitar enam bulan lamanya. Karena lebih banyak menghabiskan waktu di Indonesia dan menjalai pendidikan home schooling, hal ini membuat Dave jadi tidak punya aksen khas Australia saat berbicara bahasa Inggris, melainkan aksen Amerika. Tak jarang orang Australia asli mengira Dave berasal dari negara lain karenanya.

Dave bersama istrinya yang orang Surabaya tulen, Santi (Facebook)

Ketika akhirnya seluruh keluarganya kembali ke Australia, Dave justru memilih untuk tetap tinggal di Indonesia. Ia merasa separuh jiwanya sudah terikat di Surabaya. Ia pun akhirnya mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris dan bahkan menikah dengan wanita Surabaya bernama Santi yang ia kenal sejak masih berusia 13 tahun.

Dave dan kecintaannya pada bahasa

Meski berdarah Australia, namun Dave ternyata amat peduli dengan bahasa daerah di Indonesia, khususnya bahasa Jawa. Dave mengaku takut jika nantinya bahasa Jawa hilang dan tidak dipergunakan lagi. Itulah sebabnya Dave aktif menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-harinya. Dave berkata bahwa ia amat senang mempelajari bahasa, terutama untuk menambah perbendaharaan kosakatanya.

Terbukti, meski Dave tahu bahwa bahasa Jawa dialek Jawa Timur terkenal lebih kasar dibanding bahasa Jawa dialek lainnya, ia juga mempelajari tata krama dan tingkatan berbahasa yang biasa ada di dalam bahasa Jawa. Misalkan saja, Dave paham bahwa saat berbicara dengan orang yang lebih tua, kita tidak boleh mengucapkan endhas untuk menyebut kepala, melainkan sirah. Karena memiliki passion yang besar atas bahasa, Dave pun memutuskan untuk belajar bahasa Jawa halus atau Kromo Inggil serta belajar membaca aksara Jawa yang sudah jarang digunakan lagi. Ia juga mengaku tertarik untuk mempelajari bahasa daerah lainnya yang ada di Indonesia.

Wah, masa kita yang orang Indonesia asli dan punya bahasa daerahnya masing-masing, kalah sama Dave yang asli Australia? Makanya, jangan gengsi dan malu bisa berbahasa daerah, ya!

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *