3 Alasan Mengapa Menjadi Diri Sendiri Itu Nggak Harus Selalu Kamu Penuhi

Jadi diri sendiri menjamin kamu bahagia? Belum tentu

497
SHARES

Ketika membicarakan masalah personal maupun profesional, kamu pasti sering mendengar kalimat ‘jadilah diri sendiri’. Banyak orang bilang, satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk bahagia hanyalah menjadi diri sendiri. Masalahnya adalah, bagaimana jika keaslianmu itu justru tidak mampu membuatmu bahagia?


Bagaimana kalau menjadi diri justru tidak membuatmu bahagia? – pexels.com

Masalah lain, bagaimana jika keaslian itu justru menghambatmu meraih cita-cita atau hal penting lainnya seperti kencan pertama atau pun wawancara kerja? Masalah seperti itu terjadi, karena tidak setiap orang mau menerima setiap kejujuran yang kamu ungkapkan.

Jadi, menjadi diri sendiri itu penting, tapi juga tidak terlalu penting. Maksudnya, kamu harus paham seberapa besar kamu boleh menunjukkan kamu yang sebenarnya. Kamu bisa saja mengacuhkan penilaian orang, tapi bukankah manusia itu harus pintar menyesuaikan diri?

Sebagai pertimbangan sebelum melakukan, berikut ini adalah tiga resiko yang menghantui kalau kamu benar-benar ingin menjadi diri sendiri tanpa mempedulikan kodratmu sebagai makhluk sosial.

1. Kredibilitasmu bisa menurun

Kalau kamu memang berniat ingin menunjukkan siapa kamu yang sebenarnya tanpa filter apapun, pikirkan dulu. Sebab, mengungkapkan semua perasaan ke semua orang bisa membuat mereka takut mendekatimu. Karena, tidak semua orang suka dengan sikap dan perilaku setiap orang, termasuk kamu.

Tidak semua orang akan suka dengan apa yang kamu lakukan dan katakan. Kamu harus paham dengan fakta itu. – pexels.com

Kejujuran itu penting. Tapi memilih untuk tidak mengatakannya (bukan berbohong) demi meminimalisir segala kemungkinan terburuk itu jauh lebih baik, kan?

2. Kamu sulit menjadi orang yang berpikiran terbuka

Salah satu cara terbaik untuk mengenal diri sendiri adalah dengan menjadi diri sendiri. Tapi di sisi lain, kalau kamu terus-terusan terlalu menunjukkan siapa kamu yang sebenarnya, kamu hanya akan terjebak ke dalam zona nyamanmu sendiri.

Sikap jadi diri sendiri yang berlebihan itu justru membuatmu sulit menerima hal menyenangkan yang datang dari orang lain. – pexels.com

Akhirnya, kamu terlalu fanatik dengan diri sendiri dan mengabaikan segala kemungkinan yang berasal dari luar. Kalau kamu pikir kamu itu sudah menyenangkan, bukankah yang lebih menyenangkan itu justru ada di luar sana?

3. Dan memaksa orang lain menerima keburukanmu

Terlalu menjadi diri sendiri berarti kamu mementingkan ego di atas segalanya. Dalam setiap kesempatan, kamu selalu saja ingin menjadi diri sendiri. Akhirnya secara tidak sadar, kamu memaksa orang lain untuk menerimamu apa adanya, lengkap dengan semua keburukanmu.

Secara sepihak, kamu malah harus memaksa orang lain untuk menerimamu apa adanya, bahkan lengkap dengan semua keburukanmu. – youtube.com

Bukankah logikanya kita harus belajar menghilangkan keburukan kita agar pantas diterima orang lain, bukan malah membanggakan dan memaksa orang lain untuk menerimanya mentah-mentah?

Jadi apa kesimpulannya?

Bahwa menjadi diri sendiri itu memang penting, tapi kamu juga harus berhati-hati dengan semua sikap dan pendapat yang kamu tujukan untuk orang lain. Imbangi keaslianmu dengan tetap menerima ide, sudut pandang, dan karakter orang lain.

Ini bukan soal kamu harus pintar bermuka dua atau yang semacamnya. Ini semua, adalah tentang bagaimana sebaiknya kamu bisa fleksibel dalam bersikap dan berinteraksi dengan semua orang.

497
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."