7 Alasan Mengapa Hidup di Kota Bisa Membunuhmu Pelan-Pelan

Hidup di kota emang keren sih. Tapi hati-hati…

Saa ini, lebih dari separuh populasi manusia tinggal di kota. Bahkan pada tahun 2050, para ahli memperkirakan sebanyak 70% umat manusia akan tinggal di kota. Padahal faktanya, kehidupan kota benar-benar membawa dampak buruk bagi kesehatan dan kesejahteraan penduduknya.

Baca juga : Polyamory, Cara lain Merasakan Bahagia dalam Menjalin Hubungan Cinta

Kota, tempat di mana kesehatan dan kesejahteraan penduduknya benar-benar mengkhawatirkan. | medium.com

Kamu yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan, pasti paham betapa panas dan menyebalkannya hidup di kota. Tapi percayalah, apa yang kamu rasakan itu belum seberapa, karena masih ada tujuh alasan lain yang menjadikan kota sebagai tempat terbaik untuk mati sia-sia.

1. Secara harfiah, hidup di kota membuat kita gila

Penelitian National Institute of Health (NIH), Amerika Serikat, pada 2010 menyebut, mereka yang tinggal di perkotaan mempunyai resiko 21% lebih tinggi mengalami anxiety disorder serta 39% lebih tinggi mengalami mood disorder dibanding warga pedesaan.

Kehidupan kota bisa membuat penduduknya mudah panik dan mood berubah dengan cepat. | biznes.onet.pl

Coba lihat saja di sekitarmu. Apakah kamu, saudara, teman, atau rekan kerja di kantor sering menunjukkan kepanikan berlebih atau mengalami perubahan mood tiba-tiba? Di Jakarta, misalnya, —khususnya di jalanan saat macet, kedua hal itu menunjukkan wujudnya secara nyata.

2. Semua hal terjadi begitu cepat di kota

Pernahkah kamu merasa hidup terasa begitu cepat saat berada di kota, sementara saat pulang kampung atau berlibur ke luar kota segalanya terasa lebih lambat?

Di kota, semua hal terasa berjalan begitu cepat. | cloudfront.net

Hal itu terjadi karena apa yang disebut sebagai pace of life. Di mana di perkotaan, alur kehidupan bergerak lebih cepat dibanding pedesaan. Alur yang cepat ini, menjadi salah satu pemicu berbagai masalah mental, termasuk apa yang sudah saya jelaskan pada poin pertama di atas.

3. Polusi benar-benar mematikan

Adalah rahasia umum bahwa udara di perkotaan dipenuhi polusi, yang berdampak buruk bagi kesehatan warganya. Ini, masih ditambah dengan korelasi kuat antara polusi udara perkotaan dengan berbagai penyakit mematikan seperti penyumbatan arteri, jantung dan kanker paru-paru.

Polusi udara, hal yang begitu umum di perkotaan. | cnbc.com

4. Polusi suara juga tak kalah mematikan

Siapa sangka, tingginya polusi suara di perkotaan juga bisa menyebabkan kematian. Hal ini diketahui dari riset NIH pada tahun 2015 terhadap 8,6 juta warga London, di mana ditemukan hubungan kuat antara polusi suara di ibukota Inggris tersebut dengan tingkat kematian.

Polusi suara bisa mengakibatkan stroke hingga kematian. | wikimedia.org

Selain itu, ditemukan bukti bahwa semakin tinggi polusi suara di suatu tempat, maka semakin tinggi juga resiko serangan stroke pada warga usia lanjut.

5. Warga kota lebih mudah alergi

Warga perkotaan cenderung lebih mudah mengalami alergi dibandingkan mereka yang tinggal di pedesaan. Selain itu, anak-anak yang tinggal di perkotaan jauh lebih banyak mengalami masalah pernapasan, khususnya asma. Hal ini terkait erat dengan berbagai faktor, seperti stress, berbagai polutan, mikroba, dan allergen.

Banyak orang menderita asma hanya karena alasan hidup di kota. | kompas.com

6. Polusi cahaya menyebabkan social jetlag

Masih berdasarkan riset NIH, kali ini data dari penelitian tahun 2014. Julukan ‘kota yang tak pernah tidur’ mungkin terdengar keren. Tapi di sisi lain, cahaya berlebihan adalah contoh lain dari polusi yang bisa mengganggu kesehatan manusia.

Cahaya kota memang terlihat keren. Tapi, cahaya yang berlebihan bisa mengganggu kesehatan. | chronoceuticals.com

Dalam jangka panjang, warga perkotaan akan mengalami social jetlag, sebuah gangguan fisik karena tubuh bekerja keras menyesuaikan perubahan jam tidur di hari kerja dan hari libur. Kondisi ini memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas hingga yang mengerikan: diabetes.

7. Kota dipenuhi masyarakat yang tak acuh

Benar sekali, ini adalah kondisi umum di hampir semua kota. Mungkin karena sebagian besar warganya adalah pendatang, individualisme dan acuh tak acuh menjadi norma yang ‘harus ditegakkan’.

Acuh tak acuh adalah budaya kota yang tak terbantahkan. | voanews.com

Tentu saja, daftar memilukan di atas .bisa semakin panjang kalau kita menambahkan kasus-kasus spesifik seperti masalah sosial, ekonomi, hukum, budaya, dan lain sebagainya yang menghampar hampir di setiap sudut kota.

Dengan begitu banyaknya kondisi buruk seperti itu, maka pertanyaan besar yang harusnya kita teriakkan adalah, “mengapa masih saja hidup di kota? Mengapa tak pindah atau kembali ke desa?”

Saran saya, daripada kamu mati sia-sia di kota, ayo bali ndeso, ayo mbangun deso! Ayo kembali ke desa, ayo membangun desa!

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: “Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal.”

Jika Bukan yang Sering Kamu Doakan, Jodohmu Adalah Dia yang Mendoakanmu

Kisah Mengharukan Remaja Manado Bernama ‘Tahanan PBB’