Dilihat Dari Apa yang Dilakukannya di Sosmed, Inilah Ciri Nyata Seorang Social Climber

Parahnya terkadang mereka menghalalkan banyak cara agar bisa terlihat kaya

Social climber merupakan sebuah istilah yang merujuk pada seseorang yang senang mencari “pengakuan sosial”. Biasanya pengakuan ini jauh lebih tinggi dari kondisi atau status yang sebenarnya dan banyak dilakukan di sosmed. Istilah ini kembali mencuat setelah adanya kasus penipuan oleh agen perjalanan First Travel beberapa waktu lalu.

Ciri nyata seorang social climber (infoteratas.com)

Seperti yang diketahui, First Travel telah melakukan penipuan kepada puluhan ribu calon jemaah umroh dengan modus menawarkan paket perjalanan murah. Sepasang suami istri atas nama Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan selaku bos First Travel telah ditetapkan menjadi tersangka utama.

Yang mengejutkan banyak pihak adalah selama ini kehidupan bos First Travel begitu mewah dan sangat glamour. Sering berkeliling dunia, menggunakan pakaian serba mahal, hingga mengikuti ajang kenamaan dunia, New York Fashion Week. Siapa yang akan menyangka jika kemewahan yang sering ditunjukkan oleh bos travel ini ternyata hasil dari menipu puluhan ribu calon jamaah umroh.

Hal ini menjadi salah satu ciri nyata seorang social climber. Lalu apa saja sih ciri lainnya?

Sering menggunakan label terkenal dari ujung rambut hingga ujung kaki

Seseorang yang memiliki “penyakit” social climber ini biasanya sering bahkan selalu menggunakan barang-barang branded di setiap foto yang diunggah di sosial media. Dari ujung rambut hingga ujung kaki semua dihiasi oleh barang mewah. Entah itu barang asli atau bukan, yang penting dia terlihat sebagai seseorang yang mampu membeli barang-barang tersebut.

Sering menggunakan label terkenal dari ujung rambut hingga ujung kaki (kitamuda.id)

Petualangan mewah harus ada di setiap foto

Jika kamu membuka sosmed seorang social climber, kamu hanya akan menemukan foto-foto maupun “bukti” yang menunjukkan petualangan mewah. Entah itu belanja di mall ternama, traveling ke tempat mewah dan luar negeri, atau sekedar ngopi di cafe mahal.

Petualangan mewah harus ada di setiap foto (newsapi.com.au)

Sama sekali tak ada tentang sisi kemanusiaan dalam akun sosmednya. Orang seperti ini hanya akan hidup di sosmed saja dengan petualangan mewahnya. Yang penting teman-temannya tau hal-hal elistis keren nan eksklusif yang telah dilakukannya.

Tidak bisa berteman dengan semua orang

Di sosmed, dia terlanjur dikenal dengan kehidupan mewahnya. Dan agar orang-orang makin percaya, orang ini juga memaksakan tingkahnya agar terlihat elegan meskipun tidak sesuai dengan nalurinya. Hasilnya? Seorang social climber tidak bisa berteman dengan semua orang. Dia hanya akan merasa nyaman dengan orang yang memiliki visi sama sepertinya.

Tidak bisa berteman dengan semua orang (amazonaws.com)

Hanya menemani saat berada di puncak

Seseorang dengan “penyakit jiwa” social climber termasuk yang pilih-pilih dalam hal pertemanan. Mereka hanya akan memilih teman yang memiliki cukup uang untuk sekedar membeli makan dan minuman di atas meja.

Hanya menemani saat berada di puncak (towertrip.com)

Mereka tidak akan peduli dengan teman yang sedang kesusahan dan menghampiri saat membutuhkan saja. Orang tipe ini tidak mau diajak susah hanya karena takut citranya akan rusak.

Mencoba meyakinkan orang betapa mengagumkannya mereka

Tak hanya pamer kemewahan, mereka bahkan memamerkan kisah-kisah kebaikan dan heroiknya kepada orang-orang. Tak terkecuali dalam hal beramal. Mereka senang menceritakan kebaikannya kepada orang yang sedang membutuhkan untuk menunjukkan bahwa mereka bukan dari golongan orang-orang yang harus dibantu. Dengan kata lain, mereka “menyamar” sebagai orang kaya yang tidak membutuhkan bantuan.

Mencoba meyakinkan orang betapa mengagumkannya mereka (thesoshalnetwork.com)

Menutup rapat informasi pribadi

Biasanya orang-orang membicarakan apa pekerjaannya, dan ini wajar. Namun seorang social climber saat menutup rapat hal ini. Mereka sangat menghindari untuk menceritakan detail kehidupan yang ditutupi.

Menutup rapat informasi pribadi (errizhou.blogspot.co.id)

Bahkan jika ada orang lain yang berniat mengunjungi rumahnya, dia memiliki seribu cara untuk menolak. Mereka takut jika orang lain tau tentang kenyataan bahwa, dia tidak tinggal dan hidup mewah seperti citranya di sosmed.

Dan kenyataan sosial climber ini merupakan “penyakit jiwa” orang miskin yang sangat ingin terlihat kaya di mata orang lain. Bahkan jika sedang tidak menggunakan barang branded, ada rasa cemas, khawatir dan tidak percaya diri. Semoga kamu bukan termasuk salah satunya ya.

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Ternyata Ini Lho Alasan Kenapa Orang Indonesia Hobi Banget Gonta-ganti Nomer HP

5 Perbedaan Antara Cewek Baik-Baik dan Cewek yang Cuma ‘Baik’ Saja