Cinta dan Memberi Adalah dua Kata Sejati dalam Kamus Nurani

Kalau bisa menerapkannya dalam kehidupanmu, niscaya hubungan yang langgeng bisa tercipta

Berbicara perkara cinta memang tidak ada habisnya. Siapapun rasanya tak bisa dipisahkan dari hal yang satu ini. Namun masalahnya, tak semua orang bisa memposisikan cinta pada tempatnya. Ada yang menganggap cinta itu harus memiliki. CInta itu harus menuntut. Cinta itu harus begini dan begitu.

Sejatinya, kalau kita mau menuruti kata hati nurani, maka kita akan menyadari bahwa cinta erat kaitannya dengan memberi. Ya, karena cinta dan memberi adalah dua kata sejati yang saling berkorelasi dengan baik. Bagaimana penjelasannya? Yuk simak artikel berikut ini.

Tiga jenis cinta

Sebelum membahas korelasi cinta dan memberi, ada baiknya kita mengenal lebih dulu beberapa jenis cinta. Pada umumnya, kita mengenal tiga jenis cinta yang bisa kita temui dimana saja. Ketiga jenis cinta itu adalah cinta bersyarat, cinta sebab-akibat, dan cinta tulus. Cinta bersyarat muncul ketika seeorang mencintai orang lain dengan embel-embel ‘jika’. Misalkan: “Aku mencintaimu jika kau mau berhubungan seks denganku”. Kata-kata gombal penuh rayuan busuk seperti itu kerap kali diucapkan oleh anak-anak muda yang merayu pasangannya agar memberikan mahkota berharganya kepada si lelaki. Jadi para wanita, berhati-hatilah akan lelaki yang cintanya bersyarat seperti ini.

Baru melihat saja kitaa sudah bisa menebak jika hubungan seperti ini berdasarkan pada cinta bersyarat (youtube.com)

Kedua adalah cinta sebab-akibat. Cinta jenis ini sedikit mirip dengan cinta bersyarat, namun kata kuncinya ada pada kata ‘karena’. Contohnya: “Aku mencintaimu karena kamu adalah gadis yang rajin, cantik, ramah, blablabla”. Sebenarnya wajar memang jika seseorang mencintai orang lain karena ketertarikan seperti itu. Karena kamu cantik, maka aku mencintaimu, dan sebagainya. Tapi jika dasar cinta tidak lebih dalam dari apa yang terlihat, yang dimiliki atau dilakukan seseorang, maka cinta seperti itu juga belum tentu akan bertahan lama.

Cinta sejati bisa dibilang mirip dengan plot film Twilight, si manusia bisa menerima dan mencintai pasangannya yang merupakan vampire. Ibaratnya, ada mangsa jatuh cinta dengan calon pemangsanya (imgix.net)

Terakhir adalah cinta sejati. Cinta yang paripurna dan didambakan semua orang. Melalui cinta sejati, seseorang akan mencintai pasangannya dalam kondisi apapun. Boleh saja pasangannya dulu cantik jelita. Bertahun-tahun kemudian setelah melahirkan dua anak lantas berubah kumal, kusam dan tak semenarik dulu. Jika cinta sejati telah tumbuh di dalam dada, maka hal seperti itu tak akan mengubah rasa cinta seseorang pada pasangannya. Cinta jenis ini dapat dan benar-benar mengenal secara mendalam orang yang dicintainya. Cinta ini menyadari kemungkinan terjadinya kegagalan, kekurangan dan kesalahan pasangan tanpa memadamkan cintanya.

Cinta itu memberi

Melalui penjelasan di atas, kita jadi paham bahwa cinta sejati adalah cinta yang memberi. Kenapa begitu? Karena saat kita mencintai seseorang, maka kita akan aktif memberi untuk pasangan. Konteks memberi di sini amat luas, bisa dengan suka memberikan pelukan hangat pada pasangan setiap saat dibutuhkan, memberikan ciuman sayang, hadiah-hadiah di hari penting, bahkan hingga ke hal sepele seperti memberi potongan daging terbaik untuk anggota keluarga ketika makan bersama.

Cinta adalah memberi (crystalinks.com)

Meski begitu, perlu diingat juga bahwa korelasi cinta dan memberi bukanlah seperti peternak yang mencurahkan daya upayanya untuk memberikan pakan terbaik bagi ternaknya, karena kau selalu bisa memberi tanpa sedikitpun memiliki perasaan cinta, tetapi kau takkan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi….

Dozan Alfian

Written by Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Nggak Cuma Indonesia, Bahasa Jawa Juga Digunakan 6 Negara Ini Untuk Percakapan Sehari-hari

Polyamory, Cara lain Merasakan Bahagia dalam Menjalin Hubungan Cinta