Akuilah, Terkadang Bullying Merupakan Aktivitas yang Menyenangkan

Apalagi di era informatika seperti saat ini…

Maraknya media sosial dan kemudahan pada akses informasi membuat manusia di era milenial bisa dengan cepat mengikuti perkembangan dunia. Melalui berbagai kemudahan informasi inilah terkadang kita bisa dengan mudahnya memviralkan sebuah momentum, baik peristiwa yang inspiratif maupun yang buruk.

Baca juga : 5 Akun Instagram Ini Buktikan Bahwa Setiap Wanita Itu Cantik dengan Caranya Masing-Masing

Dengan segala kemudahan itu, kita juga merasa bisa terhubung dengan banyak orang lain tanpa perlu saling mengenal secara dekat. Akibatnya, mudah sekali ditemui adanya bullying di berbagai peristiwa viral. Ambil contoh kasus Shafira Nabila Cahyaningtyas yang viral karena mengeluh soal berbagi bangku KRL dengan ibu hamil. Keluhan yang berujung pada menjelek-jelekkan ibu hamil itulah yang membuat netizen kesal dan mem-bully Shafira habis-habisan. Bahkan bisa jadi, kamu juga salah satunya.

Mem-bully itu menyenangkan

Mem-bully, atau di dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah merisak atau merundung, merupakan suatu perlakuan yang sifatnya mengganggu, mengusik terus-menerus dan juga menyusahkan orang yang dirundung. Kata ini juga bisa diartikan sebagai menakuti atau menyakiti orang yang lebih lemah. Jadi, sebenarnya bullying bukanlah hal yang baru bagi kita semua, karena pasti kita pernah melakukannya sesekali, entah sadar atau tidak.

Bullying itu menyenangkan. Bagi yang mem-bully – zliving.com

Lantas, kenapa seseorang bisa melakukan bullying meskipun tahu bahwa itu adalah tindakan yang salah? Well, sebenarnya mudah saja. Jawabannya: karena mem-bully itu menyenangkan. Dengan mem-bully orang lain yang kita anggap salah atau pantas untuk di bully, maka kita merasakan euforia bahwa diri kita lebih superior dan lebih bersih karena tidak melakukan hal seperti yang dilakukan oleh orang yang di bully.

Shafira di bully karena mengeluhkan ibu-ibu hamil di KRL – facebook.com

Kembali mengambil contoh kasus Shafira, kita mem-bully-nya karena kita merasa bahwa kita tidak akan melakukan hal yang dilakukan Shafira. Kita merasa pasti bahwa kita punya cukup moral untuk mengikhlaskan bangku kita pada ibu hamil di sebuah KRL yang penuh sesak. Karena merasa pasti itulah maka kita juga merasa berhak untuk menghakimi keluhan Shafira, bahkan sampai mendoakan agar kejadian serupa akan dialami Shafira saat ia hamil.

Faktor-faktor penyebab orang melakukan bullying

Kita mungkin masih menganggap wajar seseorang yang di bully karena berlaku negatif ataupun menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masyarakat. Tapi bagaimana jadinya jika bullying juga masih ditemui pada orang-orang yang sukses? Demian Aditya contohnya, meski tampil memukau di ajang America’s Got Talent, namun Demian tetap saja di bully karena dirasa aksi Demian biasa-biasa saja dan mudah ditebak. Kalau sudah begini, baik atau buruk memang benar-benar subjektif bukan?

Curhat Demian di media sosial – Demian

Selain karena menyenangkan, ada beberapa faktor yang membuat orang melakukan bullying. Pertama, dan paling sering dijumpai, adalah untuk merendahkan dan menjatuhkan orang lain. Jenis ini bisa kita jumpai di kasus Shafira maupun Demian. Kedua, membalas sikap sebelumnya dari orang yang pernah mem-bully kita. Dalam hal ini, kita akan dengan senang hati mem-bully seseorang karena merasa orang tersebut juga pernah melakukannya pada kita. Ketiga, sebagai pelarian untuk menghibur diri. Ada kalanya, orang melakukan bullying karena merasa berat dalam menghadapi kehidupannya. Akhirnya, ia melampiaskannya dengan mem-bully orang lain.

Cyberbullying kian marak karena kemudahan di era informatika – youtube.com

Terkadang, ada juga orang yang melakukan bullying dengan maksud sebagai lucu-lucuan. Untuk bully jenis ini, kadang kita yang di bully pun justru merasa ikhlas dan ikut menikmatinya. Meski begitu, bullying tetap ada batasnya. Jangan juga mem-bully orang lain untuk tujuan memancing di air keruh. Ini cukup berbahaya, dan contoh yang paling mudah kita temui adalah selama masa pilkada di DKI Jakarta beberapa waktu lalu yang hingga kini berbuntut panjang dan merembet kemana-mana. Berhati-hatilah juga dalam menyikapi suatu masalah, karena bisa jadi kamu melakukan bullying yang salah sasaran, yakni mem-bully orang yang sebenarnya tidak bersalah dan tidak punya andil apa-apa.

Amanda Todd, salah satu korban cyberbullying yang berakhir tragis – cyberbullying.org

Walaupun bullying amat mudah terjadi kapan saja dan oleh siapa saja, ingatlah bahwa cuma dirimu sendiri yang bisa mengendalikannya. Pertanyakan lagi pada dirimu, apakah kamu memang perlu mem-bully seseorang? Padahal, ada banyak cara lain yang jauh lebih baik dan elegan untuk memperingatkan sesama tanpa harus mem-bully-nya. Ingatlah juga bahwa dengan mem-bully seseorang, kamu punya potensi jadi penjahat dan merenggut kehidupan orang lain.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

4 Kegiatan Ini Jauh Lebih Menyenangkan Dilakukan Saat Puasa

Soal Plagiasi Afi Nihaya, Pantaskah Jika Kita Kemudian Mem-bully-nya?