5 Hal Ini Membuktikan Ekspektasi Go International Agnez Mo Berakhir Anti-Klimaks

Hingga membuat para haters terus bermunculan

Agnes Mo adalah salah satu artis serta penyanyi Indonesia penuh bakat. Dengan segudang kemampuan yang dimiliki saat ini, wajar kalau pada akhirnya dia ingin mencoba melebarkan karir profesionalnya ke tingkat yang lebih tinggi: go international. Satu langkah besar yang diinginkan oleh semua artis di seluruh dunia. Pertanyaannya, sudah berhasilkah Agnez?

(Via harianindo.com).
Dengan segudang bakat yang dimiliki, sudah berhasilkah Agnez Mo go international? (Via harianindo.com).

24 tahun berkarir, nol prestasi internasional

Agnez kecil memulai karir menyanyi ketika meluncurkan album anak-anak berjudul “Si Meong” pada tahun 1992. Album “And the Story Goes” yang dirilis pada tahun 2003 menandai bahwa penyanyi bernama asli Agnes Monica Muljoto tersebut sudah menginjak masa remaja. Setelah itu, berbagai album terus diluncurkan hingga terjun ke dunia akting dengan membintangi beberapa film.

Puncaknya adalah ketika pada tahun 2011 Agnes dikontrak oleh Greg Ogan, seorang produser asal Amerika Serikat yang menandai karir internasionalnya dimulai. Bagaimana hasilnya? Bukannya meragukan, tapi hingga lima tahun sejak dia menyatakan keinginan berkiprah di tingkat internasional tersebut, sama sekali belum membuahkan hasil sama sekali. Sebuah kemerosotan prestasi yang seharusnya tidak perlu dialami oleh seorang Agnez. Hal ini tentu saja membuat para penggemarnya di tanah air merasa kecewa.

(Via fotoseleb.com).
Meskipun bersinar di dalam negeri, namun Agnez belum menorehkan prestasi apapun di level internasional (Via fotoseleb.com).

“Coke Bottle”, sebuah ekspektasi yang berujung tragis

Dua tahun setelah menjalin kontrak dengan Greg Ogan, Agnez Mo meluncurkan single internasional pertama berjudul “Coke Bottle” yang ia lantunkan bersama Timbaland. Namun, ekspektasi yang begitu besar terhadap lagu tersebut malah berakhir anti-klimaks. Bukan kesuksesan yang diterima Agnez, namun berbagai kritikan-kritikan pedas yang didapat. Yang paling parah mungkin adalah komentar miring yang dilontarkan oleh salah satu akun Amazon bernama Pontifex Maximus. Akun tersebut mengatakan bahwa sebaiknya Agnez tidak perlu membuang banyak uang hanya untuk sesuatu (single Coke Bottle) yang lebih pantas disimpan di garasi.

(Via metroterkini.com).
Single “Coke Bottle” yang dinyanyikan bersama Timbaland belum bisa mendongkrak reputasi Agnez di dunia (Via metroterkini.com).

“Agnez Mo”, album berbahasa Inggris untuk pasar Indonesia

Terhitung sejak menyatakan diri go international, Agnez Mo baru meluncurkan satu album. Ironisnya, album yang diberi nama sama seperti namanya, “Agnes Mo” tersebut hanya diedarkan untuk kalangan dalam negeri. Padahal sebenarnya semua lagu yang ada di dalam album tersebut layak dijual ke luar negeri karena semua memakai bahasa Inggris. Di Indonesia pun, penjualan album tersebut belum layak dibilang sukses. Entah apa yang direncanakan Agnez, namun fakta ini semakin menunjukkan kalau dia belum percaya diri untuk memamerkan kemampuan di level dunia. Lima tahun go international dan belum ada satu pun album internasional adalah kebelumberhasilan yang benar-benar tak bisa ditampik, bahkan oleh Agnez sendiri.

(Via slidegossip.com).
Sebuah kelucuan ketika album “Agnez Mo” yang semua liriknya berbahasa Inggris hanya dijual di Indonesia saja (Via slidegossip.com).

The Voice Indonesia Season 2

Ngomong-ngomong, apa sih kegiatan Agnez Mo sekarang? Saat ini dia masih di Indonesia saja kok, tidak punya kesibukan apapun di luar negeri yang berhubungan dengan karir profesionalnya. Saat ini Agnez menjadi salah satu juri di ajang pencarian bakat bernama The Voice Indonesia Season 2. Format ajang ini adalah mencari para peserta yang berbakat dalam olah vocal tanpa menilai aspek penampilan. Agnez bersama Ari Lasso, Kaka “Slank”, dan Judika bertanggung jawab menyeleksi kontestan-kontestan yang mempunyai suara terbaik. Menarik memang, Agnez terlihat hebat di acara yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta tersebut, namun tidak dari sudut pandang karir internasionalnya.

(Via rcti.tv).
Apakah Agnez benar-benar tidak punya kegiatan di luar negeri sampai harus menjadi juri dengan kontrak jangka panjang? (Via rcti.tv).

Siapapun artis atau penyanyi yang sudah berhasil melenggang ke ranah dunia tidak akan mempunyai banyak waktu untuk kegiatan di dalam negeri, apalagi sampai mengisi sebuah acara dengan kontrak jangka panjang. Dia akan lebih mementingkan kegiatan-kegiatan ber-level internasional demi cita-cita yang sudah dirintis sejak lama. Kalaupun harus mengisi acara dalam negeri, hanya sebatas sebagai bintang tamu saja. Kenyataannya, Agnes Mo melebihi porsi yang seharusnya tidak dia lakukan sebagai seorang penyanyi go international. Agnez menjadi juri tetap di The Voice Indonesia Season 2 yang berarti dia sama sekali tidak punya agenda apapun di luar negeri dalam waktu lama. Bila ditambah dengan Nez Academy, ajang serupa yang ia bawakan pada tahun 2013, akan semakin menambah panjang waktu “nganggurnya” di luar negeri.

(Via youtube.com).
Nez Academy yang bawakan Agnez sendirian pada tahun 2013 semakin membuktikan kalau tidak ada agenda yang harus dia lakukan di luar negeri (Via youtube.com).

Kalangan pembenci dengan bendera “Haters”

Dengan merosotnya prestasi yang dialami Agnez Mo hingga saat ini, masyarakat Indonesia menjadi terbelah dua, mereka yang tetap mendukung dan mereka yang mulai bersikap membenci. Kedua kubu tersebut saling baku hantam di media-media sosial dengan akar masalah seputar kehidupan Agnez. Para haters (sebutan untuk kalangan yang membenci Agnez) ini selalu mengeluarkan komentar-komentar pedas yang ditujukan kepada Agnez. Contohnya adalah ketika Agnez sering update foto di akun Instagram-nya, banyak netizen yang berkomentar miring.

“Mana lagunya? Foto terus terusan. Aku menunggu karyanya kok belum jelas.” (denyned).

Di media sosial Facebook, ada sebuah akun yang mencibir ketika sebuah event mengumumkan daftar pemenang yang berhadiah bertemu langsung dengan Agnez.

“Hadiahnya cuma ketemu artis nggak bermutu ini? Kasihan, nemuin dia gampang kali. Datang aja nonton The Voice Indonesia, atau ke acara-acara mall, atau di konser-konser lokal. Karena  dia pengangguran di luar negeri juga, maennya juga di sini mulu.” (MO).

Di Twitter pun sama, banyak tweet-tweet yang berkesan menyindir Agnez tentang kesuksesannya di Amerika Serikat, contohnya ini:

“Nez, gimana sepak terjang lu di New York? Udah sukses belum? Curhat dong ke seluruh pengemar lu di seluruh dunia biar pada tau.” (@MEMETRUDDY).

(Via gitugini.com).
Banyak komentar-komentar miring seperti ini yang bisa ditemukan di berbagai media sosial (Via gitugini.com).

Tentu saja, masih banyak komentar-komentar serupa yang beredar di dunia maya. Sebenarnya, masalah bukan pada mengapa mereka begitu membenci Agnez Mo, tapi mengapa penyanyi sekelas Agnez bisa mempunyai haters sebanyak dan seradikal itu. Kalau Agnez mau sedikit berpikir positif, apa yang dialaminya tersebut bisa dijadikan cambukan untuk berprestasi lebih baik lagi. Dia harus membuktikan bahwa dia layak go international dan mengubah para pembenci menjadi penggemar-penggemar setianya, seperti dulu. Semoga dengan “Boy Magnet”, mini album yang rencananya akan dirilis tahun ini bisa kembali menaikkan reputasi Agnez di mata masyarakat. Kalau gagal lagi, ekspektasi besar dari para penggemar dan Agnez sendiri bisa benar-benar hancur.

Kamu punya pendapat tentang tulisan ini? Jangan ragu untuk berkomentar.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *