Bukan Hanya Sebagai Solusi Saat Perut Lapar, Inilah Sejarah “Angkringan” yang Kaya Akan Nilai Filosofi

Angkringan selalu memberikan kehangatan, kesederhanaan dan keromantisan

388
SHARES

Bagi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah, mendengar istilah Angkringan tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Gerobak yang menyajikan aneka hidangan makanan dan minuman ini sudah tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Jogja dan Jawa tengah. Saking eratnya hubungan angkringan dan masyarakat, membuat angkringan menjadi salah satu simbol dari identitas masyarakat di dua daerah tersebut.


Angkringan banyak ditmui di daerah Jogjakarta, Klaten, Solo, Magelang, semarang, dan Sekitarnya (wisatakulinersemarang.com)

Angkringan sangat mudah ditemukan jika kita jalan-jalan ke daerah Solo, Klaten, Jogjakarta, Magelang, Semarang, Purworejo dan beberapa daerah di Jawa Tengah Lainnya. Menu yang biasa disajikan di gerobak angkringan ialah nasi kucing, satu telur puyuh, gorengan, sate usus, sate hati ayam, dan aneka minuman.

Salah satu angkringan di Kota Solo (bisnisangkringan.wordpress.com)

Namun dibalik merebaknya angkringan di berbagai daerah, siapa sangka angkringan ternyata memiliki sejarah dan nilai filosofis yang dalam. Laiknya kebudayaan dan tradisi di Jawa lainnya, angkringan juga bukan hanya sekedar tempat pengobat rasa lapar, namun lebih dari itu angkringan memiliki sejarah dan nilai filosofis masyarakat jawa yang tinggi.

Sejarah angkringan

Dari berbagai literasi yang dihimpun, terdapat sumber yang paling lengkap membahas asal muasal angkringan di Jawa, khususnya di daerah Jogjakarta, Klaten dan Solo. Yah, ketiga daerah bertetangga inilah angkringan sangat mudah ditemukan. Angkringan pertama kali dipopulerkan oleh Mbah Pairo, Seorang perantau asal Klaten yang berada di Jogjakarta.

Angkringan awalnya keliling dengan cara dipanggul (kumpulancerita.net)

Awalnya sekitar tahun 1950an, mbah Pairo sebagai pelopor angkringan menjajakan dagangannya dengan cara dipinggul, berkeliling kota Jogja dan biasanya mangkal di Stasiun Tugu Jogjakarta. Saat keliling Mbah Pairo mengundang konsumen dengan berteriak Ting..Ting.. Hik dan inilah yang kemudian angkringan juga disebut dengan Hik, meskipun sebagian orang berpendapat jika Hik merupakan singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung.

Mbah Pairo asal Klaten merupakan peloor dari angkringan (kumpulancerita.net)

Lambat laun akhirnya mbah Pairo tidak lagi berkeliling dengan memanggul dagangannya, namun mangkal dengan menggunakan gerobak kaki lima, lengkap dengan kursi panjang yang membuat pembeli suka menaikan satu kakinya saat makan di angkringan. Nah, menaikan satu kaki inilah yang kemudian memunculkan istilah angkringan. Berasa dari kata “nangkring” atau “metangkring” yaitu berarti menaikan kaki di tempat duduk.

Nilai filosofis angkringan

Nilai filosofis angkringan bagi masyarakat Jawa sangatlah dalam, angkringan bukan hanya sebagai tempat pemenuh kebutuhan perut, namun juga sebagai tempat bersosial, mengakrabkan diri dengan warga, dan sebagai simbol egaliter yang khas dengan masyarakat Jawa.

Menu angkringan yang terkenal murah, terjangkau dan merakyat, membuat kehadirannya bisa dinikmati semua golongan, baik dosen, PNS, tukang becak, kuli, buruh, sampai karyawan kantoran, tidak segan menikmati hidangan angkringan dengan obrolan hangat sebagai ciri khas ngangkring (sebutan untuk menikmati hidangan angkringan).

Angkringan ada sebagai simbol egaliter masyarakat Jawa (okezone.com)

Dengan latar belakang konsumen yang beraneka ragam tersebut, ketika kita duduk bersama di kursi angkringan kita tidak ada lagi sekat status sosial. Semuanya membaur menikmati hidangan dengan sembari ngobrol berbagai persoalan, dari soal percintaan, politik, pendidikan, sosial, maupun fenomena yang sedang up to date bisa menjadi tema yang selalu menarik diobrolkan di angkringan.

Kesederhanaan, keakraban, dan kehangatan yang ditawarkan angkringan membuat ia selalu menyimpan keromantisan tersendiri bagi siapa saja yang pernah menikmatinya. Angkringan bukan hanya saja sebagai tempat memenuhi hak perut, tapi juga sebagai sarana bersosialisasi menghilangkan karakter individualis, dan menghilangkan sekat strata sosial di masyarakat, sebagai perlawanan atas politik kelas yang digaungkan oleh Belanda kala itu.

Kehangatan dan kesederhanaan akan kita dapatkan saat menikmati hidangan angkringan (enemkabeh.blogspot.co.id)

Bagi kamu yang pernah mengunjungi Jogja, rasanya tidak afdhol jika tidak menikmati angkringan dengan menu sederhananya. Kamu perlu mencobanya, sebab angkringan akan memberikan kenangan indah bagi siapa saja yang pernah duduk nangkring di kursinya.

Perjuangan eskistensi angkringan di era modern

Di era modern seperti sekarang ini, angkringan harus sekuat tenaga mempertahankan eksistensinya dari gempuran tempat tongkorngan yang lebih menarik. Menjamurnya kafe-kafe dengan fasilitas memadahi seperti wifi, tempat yang luas dan nyaman, serta suasana yang romantis menjadi tantangan tersendiri bagi keberadaan angkringan.

Angkringan masih diminati berbagai golongan meskipun berhadapan dengan tempat tongkrongan yang lebih berkelas (anekatempatwisata.com)

Namun meskipun demikian, sepertinya angkringan sudah memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Pasalnya meskipun digempur dengan tempat tongrongan yang lebih modern dan lebih lengkap fasilitasnya, nyatanya angkringan masih tetap eksis dengan kesederhanaan dan kehangatan yang ditawarkannya.

Angkringan selalu memberikan kehangatan, kesederhanaan dan keromantisan (dwisiswantoro.blogspot.co.id)

Bahkan angkringan kini semakin menjamur di berbagai daerah. Untuk di Jogja saja, pada tahun 2010 terdapat sekitar 2000 angkringan yang tersebar di Jogjakarta. Hal ini tentu menjadi bukti jika angkringan akan selalu dinanti masyarakat. Sebab, angkringan bukan hanya pengobat rasa lapar, namun ada nilai kemanusiaan dan kenangan disetiap tendanya.

388
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penikmat Dunia, Perindu Surga,