3 Budaya yang Dulunya Baik-Baik Saja, Kini Jadi Praktek Seks Bebas Tanpa Budaya

Kalau nyleneh, haruskah tetap dibudayakan?

Dalam kehidupan bersosial, tradisi merupakan salah satu wujud kebudayaan yang harus tetap dilestarikan dari generasi ke generasi. Namun, bagaimana jika sebuah tradisi semakin lama justru menyimpang dari tradisi itu sendiri? Haruskah tetap dilestarikan?

Dalam setiap budaya, selalu ada tradisi yang menjadi penghubung antar generasi. – paranormalwanita.com

Apalagi, jika tradisi kuno yang jadi ‘kekinian’ itu tidak sesuai dengan etika kita sebagai manusia. Menjadi semacam praktek seks bebas, misalnya. Bukankah hal seperti itu justru jelas-jelas merusak moral kita dan anak cucu sebagai generasi penerus tradisi dan budaya?

Seperti halnya ketiga tradisi berikut ini. Pada awalnya, ketiganya merupakan tradisi yang benar-benar baik dan dilakukan dengan cara yang baik. Namun pada akhirnya, justru menjelma menjadi semacam praktek prostitusi yang legal dan dibenarkan.

1. Tradisi Bomena

Ketika pertama kali diciptakan, tradisi yang juga dikenal dengan nama ‘night hunting’ ini dilakukan pemuda Bhutan untuk mencari dan menemukan jodoh mereka. Namun seiring berjalannya waktu, Bomena justru menjadi ajang berburu seks tanpa dibarengi dengan niat membangun rumah tangga.

Dampak nyata dari tradisi Bomena yang membuat banyak wanita Bhutan harus hamil di luar nikah dan menikah muda. – ibtimes.co.uk

Dalam prakteknya, pemuda Bhutan akan mencari dan menentukan gadis mana yang menjadi incaran. Setelah menemukan pilihan, dia akan berusaha masuk secara diam-diam ke dalam kamar gadis itu pada malam hari.

Dengan alibi melakoni tradisi, tak jarang terjadi hubungan seks terlarang di antara mereka. Sehingga semakin lama, banyak gadis Bhutan yang akhirnya hamil di luar nikah dan harus menikah di usia muda.

2. Tradisi gubuk cinta

Tradisi kedua yang menyimpang dari ajaran awalnya adalah tradisi gubuk cinta milik suku Kreung, Kamboja. Konsep awalnya, gadis yang sudah siap menikah akan tidur di dalam sebuah gubuk yang dibuatkan oleh ayahnya, dengan harapan bisa segera menemukan jodohnya.

Para gadis yang mendiami gubuk cinta demi menunggu dan menemukan pasangannya. – ohmymedia.cc

Seorang gadis bisa mendiami gubuk cinta miliknya selama beberapa malam untuk berkenalan dengan setiap pemuda yang datang menemuinya. Dan faktanya, banyak dari para tamu yang kemudian mengajak si gadis untuk berhubungan badan.

Yang menjadi miris adalah, tradisi ini akan terus dilakukan seorang gadis sampai dia menemukan pemuda yang benar-benar dicintai dan siap menjadikannya istri. Itu artinya, bisa saja dia melayani tamu-tamu tak bertanggung jawab yang hanya mau menikmati tubuhnya untuk kemudian pergi lagi.

3. Tradisi seks gunung Kemukus

Nyatanya, Indonesia yang katanya berbudaya juga menyimpan satu tradisi memalukan untuk disebut budaya. Tepatnya di Gunung Kemukus, Sragen, ada sebuah tradisi seks bebas yang sudah turun temurun dilakukan. Lebih parah, tradisi ini sangat erat kaitannya dengan ritual pesugihan.

Hingga saat ini, gunung Kemukus terkenal dengan tradisi seks sebagai salah satu bagian dari ritual pesugihan. – maskaryo69.wordpress.com

Tradisi seks gunung Kemukus bermula dari (konon) adanya satu makam yang di dalamnya terdapat dua jasad, yaitu Pangran Samudro dan ibunya, Dewi Roro. Kejanggalan ini diartikan oleh warga setempat sebagai perilaku ‘demenan’ (sayang-sayangan).

Sampai akhirnya, ada sebuah keyakinan bahwa siapa saja yang mampu melakukan hubungan suami istri selama tujuh hari tujuh malam di gunung Kemukus secara berturut-turut, maka semua dosanya akan ditanggung Pangeran Samudro dan apapun keinginannya akan terkabul.

Keyakinan yang masih diragukan kebenarannya itu akhirnya membuat banyak masyarakat dari dalam dan luar Jawa berdatangan ke gunung Kemuskus untuk melakukan ritual seks. Bahkan, sejumlah pihak kemudian memanfaatkan keyakinan itu untuk membuka bisnis prostitusi di sana.

Jika harus menanggapi nylenehnya ketiga tradisi di atas, pendapat apa yang ingin kamu sampaikan?

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Kasihan Pelajar di Negara Kita, Masih Muda Sudah Harus Menghadapi Ujian yang Bertubi-tubi

Sebelum Memutuskan Menikah Setelah Lulus Kuliah, Coba Pertimbangkan 4 Hal Ini Terlebih Dulu