Beda Sumpit Cina, Jepang, dan Korea Ini Pasti Bikin Kamu Bilang “Bisa Gitu Ya…”

Kamu yang hobi menikmati kuliner dari tiga negara serumpun ini pun belum tentu tahu perbedaannya

Siapa di antara kalian yang suka makanan Cina, Jepang, atau Korea? Tak mengherankan memang, sebab, menikmati kuliner khas dari tiga negara serumpun tersebut sudah menjadi keseharian sebagian masyarakat Indonesia. Tapi, pernahkah kamu memperhatikan bentuk sumpitnya?

Meski sama-sama sumpit, ternyata sumpit Cina, Jepang, dan Korea mempunyai bentuk yang berbeda-beda. | asianfoodgrocer.com

Jika diperhatikan, bentuk sumpit Cina, Jepang, dan Korea mempunyai perbedaan yang jelas terlihat. Berikut adalah perbedaannya menurut ahli sejarah dan budaya Asia bernama Edward Chang, penulis buku berjudul Chopsticks, A Cultural and Culinary History.

Sumpit Cina

Sumpit Cina paling panjang dibanding sumpit Jepang dan Korea. Selain itu, bagian ujung sumpit tidak runcing. Ada alasan yang berkaitan dengan sejarah di balik itu, yaitu orang Cina terbiasa makan bersama dan berbagi makanan saat makan.

Sumpit Cina berbentuk panjang agar memudahkan pemakainya ketika harus mengambil makanan di tengah meja bundar yang besar. | chinaculturetour.com

Pada abad ke-10, meja besar dan kursi diperkenalkan di Cina. Sejak saat itu, kebiasaan makan bersama mulai dilakukan sebagai budaya. Nah, karena itulah sumpit Cina dibuat panjang. Tujuannya, agar bisa menjangkau makanan di tengah meja besar tanpa merasa kesulitan.

Lebih dari itu, saat orang Cina berbagi menu Chinese hot pot (sejenis sajian sup yang disajikan di atas panci panas), sumpit yang panjang tersebut membantu mereka mengambil makanan dalam panci tanpa harus khawatir terkena panasnya panci.

Sumpit Jepang

Dari segi bentuk, sumpit dari Negeri Sakura memiliki ukuran paling pendek di antara sumpit lain. Alasannya sederhana, budaya Jepang tidak terbiasa berbagi makanan.

Masyarakat Jepang percaya bahwa saat bibir mereka menyentuh sumpit dan makanan, roh seseorang akan ikut masuk dalam sumpit dan makanan tersebut. Jadi, setiap orang memiliki sumpit dan makanan dalam porsi masing-masing yang sangat personal.

Runcingnya sumpit Jepang bertujuan agar mudah dalam memotong dan memisahkan daging ikan dari durinya. | japan-design.imazy.net

Saking percayanya, pada saat zaman perang dahulu kala, jika seorang istri atau anak merindukan ayah mereka yang sedang berperang, mereka tetap menyiapkan sumpit makan ayah mereka di meja makan. Hal itu, dilakukan untuk menghadirkan sang ayah di meja makan.

Sumpit ini juga memiliki ujung yang runcing. Alasannya, adalah karena orang Jepang sangat suka makan ikan. Sumpit berujung runcing berguna untuk membantu memotong dan memisahkan daging ikan dari durinya.

Sumpit Korea

Sumpit Korea menjadi istimewa karena terbuat dari perak, berbentuk agak pipih dan bagian ujungnya runcing seperti sumpit Jepang. Hal ini berkaitan dengan sejarah zaman perang kerajaan di Korea pada abad ke-7, di mana saat itu mereka percaya bahwa sumpit yang terbuat dari perak bisa mendeteksi reaksi kimia dari racun.

Sumpit Korea terbuat dari perak karena pada zaman dulu, logam ini dipercaya bisa mendeteksi adanya racun dalam makanan. | gotrendworld.com

Pada zaman itu, para pekerja rumah tangga kerajaan bertugas mencicipi makanan, sebelum keluarga kerajaan menyantap makanan tersebut. Hal ini dilakukan karena keluarga kerajaan takut makanan mereka diracuni oleh musuh.

Hal itu menjadi budaya turun-temurun hingga sekarang, dan semua orang Korea menggunakan sumpit perak meskipun berasal dari kondisi ekonomi menengah ke bawah. Itulah mengapa bentuknya dibuat pipih, karena bisa mengurangi biaya dan bahan produksi.

Dan mengapa ujungnya lancip, adalah karena orang Korea suka menyantap daging panggang. Sumpit perak tentunya lebih tahan lama dibandingkan sumpit yang berbahan kayu atau bambu.

Sudah paham sekarang? Jangan lupa share ke temanmu ya!

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *