Bisnis Haram Kelompok Saracen, Mendulang Rupiah dari Isu SARA dan Hoax

Untuk sebuah isu pesanan, kelompok ini diperkirakan mendapat hingga puluhan juta Rupiah!

Beberapa hari lalu pihak kepolisian berhasil menangkap tiga orang tersangka yang disebut-sebut sebagai bagian dari kelompok bernama Saracen, yakni: Jasriadi (ketua sindikat), Faizal Muhammad Tonong (ketua bidang media informasi), dan Sri Rahayu Ningsih (koordinator grup Saracen di wilayah). Kelompok yang mengambil namanya dari istilah lama orang Kristiani Eropa abad pertengahan untuk menyebut pemeluk agama Islam ini diketahui merupakan sebuah sindikat penyebar konten ujaran kebencian yang bernuansa suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA).

Baca juga : Agar Tidak Dibilang Penyebar Hoax, Lakukan 5 Hal Ini Sebelum Membagikan Informasi

Melalui hasil penyidikan aparat kepolisian, Saracen diketahui mempunyai 2.000 akun media sosial (yang kemudian berkembang menjadi 800.000 akun) untuk menyebar konten kebencian. Menurut aparat, sindikat ini membuat konten kebencian berdasarkan permintaan pemesan, termasuk diantaranya kritik terhadap pemerintahan Joko Widodo.

Tarif Saracen untuk ‘mengguncang’ Indonesia

Secara mengejutkan, Saracen mematok bayaran yang tidak sedikit untuk menyebarkan konten-konten pesanan yang sifatnya merugikan itu. Menurut Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polri Kombes Pol Awi Setiyono, Saracen dibayar sekitar Rp 72 juta per paketnya. Angka tersebut jika dirinci lebih detail meliputi biaya pembuatan situs sebesar Rp 15 juta, membayar 15 buzzer sebesar Rp 45 juta per bulan, dan anggaran khusus untuk Jasriadi sebesar Rp 10 juta. Sisanya untuk membayar orang-orang yang disebut wartawan.

Tiga orang tersangka dari kelompok Saracen yang tercyduk – multimedianews.polri.go.id

Wartawan yang dimaksud tentu bukan wartawan sungguhan yang terikat dalam kode etik jurnalistik, melainkan wartawan abal-abal yang bertugas untuk menulis artikel pesanan yang isinya juga diarahkan oleh pemesan. Saat ini penyidik masih mendalami lebih lanjut mengenai proposal tarif kelompok Saracen tersebut, termasuk mencari titik terang nama-nama yang kerap memesan konten pada mereka.

Digawangi orang-orang cerdas

Menyebarkan konten kebencian dan berita bohong lainnya bukanlah perkara mudah yang bisa dilakukan semua orang. Butuh intuisi yang tepat untuk bisa menggiring opini publik sehingga percaya pada kebenaran konten menyesatkan yang dibagikan Saracen. Oleh karena itu tak mengherankan jika orang-orang yang berada di balik Saracen adalah orang-orang yang cerdas. Jasriadi misalkan, sebagai ketua sindikat, ia mempunyai kemampuan untuk memulihkan akun media sosial anggotanya yang diblokir.

Salah satu postingan Sri Rahayu Ningsih di akun Facebooknya yang memprovokasi netizen untuk menyerang pemerintahan Joko Widodo – Facebook

Jasriadi juga berperan sebagai perekrut anggota. Caranya, ia mengunggah konten yang bersifat provokatif sesuai perkembangan tren media sosial, baik berupa kata-kata, narasi, maupun meme yang menggiring opini masyarakat untuk memandang negatif kelompok masyarakat lainnya. Dari sinilah ia kemudian menarik minat netizen untuk bergabung dan membantu penyebaran konten menyesatkan.

Orang-orang dibalik Saracen dapat dipastikan mempunyai kecerdasan di atas rata-rata – uzone.id

Meski baru tertangkap di tahun 2017, sebenarnya kelompok Saracen telah eksis sejak November 2015. Sejumlah media menjadi sarana penyebaran konten kebencian seperti grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs saracennews.com, dan berbagai grup lain yang menarik minat netizen untuk bergabung.

Sambil menunggu perkembangan kelompok ini, ada baiknya bagi kita untuk terus waspada dan tidak mudah terhasut oleh sebuah berita, meme, ataupun status-status yang mengarah pada provokasi demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Nasehat Kecil untuk Kamu yang Suka Mengumbar Kemesraan di Media Sosial

Miris! Kekayaan 4 Orang Terkaya di Indonesia Ini, Setara dengan Jumlah Harta 100 Juta Penduduk Miskin