Tak Perlu Berlebihan, Membanggakan Prestasi Anak Juga Bisa Berdampak Buruk

Memuji sewajarnya, mendukung sepenuhnya

Saat seorang anak meraih prestasi membanggakan dalam hal apapun, sudah sewajarnya jika kedua orang tuanya turut bangga. Tak jarang, orang tua bahkan membawa cerita tentang prestasi anaknya ke berbagai obrolan sehari-hari dengan rekan kerja, tetangga, atau sanak-saudara.

Baca juga : Mbah Rasimun, Pria Tua Pembuat Payung Kertas yang Produknya Berhasil Mendunia

Meski patut dibanggakan, terlalu berlebihan dalam membanggakan prestasi anak ternyata juga memiliki dampak yang tidak baik, karena secara tak sadar bisa memupuk rasa sombong di dalam diri orang tua. Beberapa akibatnya bahkan bisa berdampak pula pada tumbuh kembang anak.

Menganggap prestasi adalah kompetisi

Saat orang tua merasa bangga dengan hal yang berhasil di raih anak, maka secara tak sadar akan timbul keinginan berkompetisi di dalam hati. Hal ini didasari oleh rasa tak ingin disaingi oleh anak orang lain. Katakanlah anak kita meraih juara satu di kelasnya untuk semester pertama. Maka pasti timbul keinginan untuk terus mempertahankannya di semester kedua, bukan? Lantas bagaimana jika di semester kedua prestasi anak justru turun?

Ingatlah bahwa prestasi bukan berarti kompetisi – pxhere.com

Orang tua yang tidak siap menelan kekecewaan bisa saja membebankan rasa tidak puasnya pada sang anak. Padahal, bukan itulah sejatinya tugas sang anak. Dengan munculnya tekanan dari orang tua, anak justru bisa stres dan merasa depresi. Lagipula, itu hidupnya, bukan ajang kompetisi bagi orang tuanya.

Kebiasaan membandingkan

Saat prestasi atau tumbuh kembang anak tidak berjalan seperti yang diharapkan, orang tua lantas mencari kasus anak orang lain sebagai pembanding. Ini berbahaya, karena orang tua yang terbiasa membandingkan, fokusnya akan beralih, dari memperhatikan perkembangan anaknya menjadi memperhatikan anak orang lain.

Jangan membandingkan anak dengan lainnya, karena masing-masing istimewa dengan caranya sendiri – trueparenting.co.id

Kalau sudah demikian, maka perhatian terhadap anak juga tidak optimal, padahal orang tua selalu menuntut perubahan yang lebih baik. Hal ini kerap terjadi pada para orang tua yang baru memiliki anak. Misalkan saja anak belum bisa berjalan di usia yang seharusnya sudah bisa berjalan, maka timbul kekhawatiran. Lantas melihat perkembangan anak orang lain. Lantas galau karena anak orang lain sudah lebih dahulu bisa berjalan. Lantas merasa terbebani dengan pikiran bahwa sang anak tidak normal. Para orang tua kadang lupa, pertumbuhan dan perkembangan anak tidak selalu sama progresnya.

Cara pandang bertingkat

Jika orang tua kadung berlebihan membanggakan prestasi anak, maka cara pandangnya akan bertingkat. Maksudnya, orang tua akan memandang setiap anak melalui peringkat. Anak saya lebih cerdas dari anak B, anak C tidak segesit anak D, dan lain sebagainya.

Tidak perlu membuat stratifikasi atau tingkatan kemampuan anak, karena masing-masing punya kemampuan yang berbeda – parenttoolkit.com

Ini jelas salah dan berbahaya, karena setiap anak diciptakan dengan keistimewaannya masing-masing. Boleh jadi anak C tidak segesit anak D dalam olahraga dan ketangkasan, namun bisa saja anak C lebih pintar bernyanyi dari anak D. Masalahnya, terkadang orang tua tak peduli dengan hal semacam itu. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, dan kemudian menggolongkannya dalam tingkat-tingkat yang mereka ciptakan sendiri.

Ingatlah, anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan di syukuri. Maka tidak perlu para orang tua terlalu menyikapi prestasi anak dengan berlebihan. Bimbinglah anak untuk menemukan apa yang terbaik darinya, tanpa menaruh ekspektasi yang terlalu besar sehingga membebani anak.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Soal Plagiasi Afi Nihaya, Pantaskah Jika Kita Kemudian Mem-bully-nya?

Diundang Bermain Untuk Timnas Menolak, Pemain Muda Indonesia Ini Justru Bermain Untuk Tim Qatar