Benarkan Cantik Itu Harus Tingi, Putih Langsing, Atau Itu Hanya Tipuan Bisnis Produk Kecantikan?

Jadi kita mau jadi wanita cantik versi siapa?

Sudah menjadi mindset masyarakat kita jika ngomongin persoalan cantik selalu identik dengan wanita yang tinggi, langsing, putih, dan rambut panjang semampai. Seolah-olah wanita yang gemuk, hitam, dan pendek tidak termasuk klasifikasi wanita cantik.

Kecantikan menurut produk kecantikan (saibumi.com)

Lalu apakah benar cantik itu harus yang demikian? atau selama ini kita memaknai cantik sesuai sudut pandang iklan produk kecantikan, bukan kecantikan menurut “kesepakatan” budaya masyarakat? Mari kita bahas persoalan kecantikan bukan dari sudut pandang iklan kosmetik, melainkan sudut pandang budaya masyarakat.

Cantik menurut beberapa budaya masyarakat Indonesia

Standar kecantikan di masyarakat Indonesia tidaklah sama antar satu suku dan budaya, setiap suku dan budaya memiliki standar kecantikan sendiri-sendiri. Seperti masyarakat Suku Dayak dalam, mereka menganggap jika wanita cantik ialah mereka yang menggunakan anting-anting berat dan mencukur habis alisnya.

Cantik bagi Suku Dayak ialah mereka yang memiliki anting berat dan mencukur habis alisnya (annida-online.com)

Pun dengan masyarakat Jawa jaman dahulu. Standar kecantikan masyarakat Jawa jaman dahulu bukanlah yang tinggi, langsing dan berkulit putih, melainkan mereka yang pandai menari dianggap memiliki kecantikan diatas rata-rata.

Cantik menurut masyarakat Jawa dulu ialah yang pandai menari (pinimg.com)

Bahkan, rata-rata masyarakat Asia di era 80-an, menganggap wanita cantik ialah mereka yang berbadan berisi, memiliki lipatan di perut, dan berkulit sawo matang atau kecoklatan. Ini bisa kita saksikan di beberapa film-film India era 80-90-an. Bahkan di Indonesia standar kecantikan ini juga pernah booming.

Cantik itu relatif, tergantung budaya masyarakat yang berlaku

Pada hakikatnya standarisasi kecantikan merupakan produk budaya yang secara tidak langsung disepakati oleh masyarakat. Inilah kenapa tidak ada standar mutlak sebuah kecantikan, sebab setiap budaya dan suku memiliki standar kecantikan masing-masing.

Cantik ialah mereka yang gemuk (bodybigsize.com)

Sebagai contoh, jika di Indonesia kebanyakan menganggap wanita gemuk bukan tubuh ideal wanita cantik, namun di negara Mauritania menganggap wanita cantik ialah mereka yang berbadan gemuk. Semakin gemuk maka semakin cantik wanita tersebut. Bahkan banyak orang tua yang “memaksa” anak perempuannya makan berlebihan agar tubuhnya gemuk dan terlihat cantik.

Iklan produk kecantikan dan pembentukan standar kecantikan

Menurut para pakar ilmu komunikasi, iklan di televisi merupakan media komunikasi global yang mampu mengubah perspektif, kepercayaan, pemahaman, dan budaya masyarakat tertentu. Kekuatan televisi yang memiliki efek luar biasa kepada penontonnya ini dijelaskan dalam teori komunikasi massa jarum hipodermik. Yang mana pesan iklan dalam televisi dianggap seperti peluru yang pasti tepat kena sasarannya dan bisa merubah baik perspektif, pemahaman, kebiasaan maupun budaya penontonnya.

Iklan produk kecantikan membentuk standar baru kecantikan (tribunnews.com)

Televisi selain sebagai media massa yang bersifat informatif, juga menjadi media bisnis yang sudah barang tentu membutuhkan pemasukan. Melalui iklan lah dunia pertelevisian bisa menikmati sejuknya bisnis media massa.

Standar kecantikan baru dibentuk oleh pebisnis produk kecantikan (rockingmama.id)

Kekuatan televisi yang mampu merubah pola pikir dan budaya masyarakat inilah yang kemudian dijadikan para pebisnis produk kecantikan untuk merubah standar kecantikan. Kini standar kecantikan bukan lagi berpaku dengan budaya masyarakat, melainkan dengan apa yang dibentuk oleh televisi.

Kecantikan menjadi ladang bisnis menggiurkan

Iklan produk kecantikan di televisi selalu menggambarkan bagaimana wanita cantik identik dengan berkulit putih bersih, tubuh langsing dan tinggi, serta memiliki rambut hitam lurus. Penggambaran seperti ini oleh pebisnis kosmetik yang disajikan terus menerus melalui televisi membuat standar kecantikan di masyarakat pun mulai bergeser.

Beberapa iklan kecantikan di televisi (setara.net)

Kini bukan lagi mereka yang berkulit sawo matang yang dianggap cantik, atau bukan lagi yang alisnya dicukur habis yang dianggap cantik. Tapi mereka yang sesuai dengan produk kecantikan yang diperjual belikan.

Bisnis iklan di televisi (setara.net)

Saat standar kecantikan berhasil terbentuk di masyarakat oleh produk kecantikan melalui iklan televisi, maka secara tidak langsung masyarakat akan menginginkan penampilan seperti apa yang digambarkan oleh produk kecantikan. Dampaknya, bisnis produk kecantikan pun tiap tahun berkembang pesat bak jamur di musim penghujan. Kabar buruknya, kita kehilangan jatidiri budaya dalam persoalan kecantikan.

Written by Aulawi (Aw)

Aulawi (Aw)

Salah Seorang yang Meyakini Lucinta Luna Itu Perempuan Tulen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *