Kenapa Kita Sering Disebut Sebagai “Bangsa Sumbu Pendek”?

Julukan ini tentu memalukan bagi Indonesia yang sejak dulu dikenal ramah dan penuh kehangatan

Belakangan ini, kita makin sering mendengar istilah ‘Bangsa Sumbu Pendek’. Sebutan ini seringkali muncul saat kita menjumpai kejadian macam pembakaran seorang teknisi amplifier yang dituduh mencuri perangkat amplifier masjid beberapa waktu lalu.

Jadi, boleh dibilang bahwa istilah sumbu pendek ditujukan bagi mereka yang gemar pukul dulu, tanya belakangan. Ibarat bom, mereka yang sumbunya pendek cepat sekali disulut dan kemudian meledak. Padahal, belum tentu hal yang menyulut tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pilkada Jakarta 2017

Menengok kebelakang, istilah bangsa sumbu pendek mulai santer terdengar sejak pilkada 2017 di Jakarta lalu. Kala itu, banyak sekali provokator yang memancing di air keruh untuk kepentingan masing-masing golongan. Seperti kita tahu, banyak sekali berita-berita maupun hasutan-hasutan berisi kebencian yang beredar sepanjang masa pilkada itu.

Pilkada Jakarta 2017 menjadi momentum kemunculan mereka yang bersumbu pendek – kompas.com

Anehnya, tak hanya warga Jakarta saja yang terpancing aneka kebohongan itu, namun juga nyaris di setiap penjuru Indonesia. Penyebabnya, isu-isu yang dilempar adalah jenis sensitif macam agama dan ras. Tak heran jika banyak sekali yang terprovokasi dan lantas terlibat dalam benturan-benturan yang seharusnya tidak terjadi.

Mereka yang bersumbu pendek senang memukul dulu baru bertanya kemudian saat nasi sudah jadi bubur – detik.com

Merasa isu yang dilempar mendiskreditkan agama atau kesukuannya, seseorang bisa dengan mudah tersulut emosinya tanpa mau berpikir jernih. Kalau sudah begini, rasanya memang tepat kalau kita mendapat julukan bangsa sumbu pendek. Padahal kalau ada sedikit saja niatan untuk membuka pikiran dan mencari tahu, kebenaran akan ditemukan seterang cahaya.

Ciri bangsa sumbu pendek

Seseorang yang bersumbu pendek cenderung egois, menutup diri dari akal pikir dan mengedepankan emosi. Saat seseorang sudah bergantung pada hal-hal itu, maka ia akan bertindak sesuai pemahaman sendiri tanpa memikirkan sudut pandang orang lain. Jika sudah begini, maka kebenaran hanya akan diakuinya ada pada golongannya, bukan pada golongan lain, sehingga semua yang diluar keyakinannya akan dianggap salah.

Ilustrasi sumbu pendek – redaksiindonesia.com

Padahal, sejak dahulu kala bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah dan penuh kehangatan. Kenapa kini menjadi sedemikian berubah sehingga galak dan gemar meledak-ledak? Bangsa yang bersumbu pendek akan mudah terprovokasi, cenderung reaktif dan memiliki toleransi yang rendah terhadap perbedaan-perbedaan yang muncul. Seseorang bahkan bisa dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain hanya karena tersulut emosinya oleh sesuatu yang belum jelas.

Mau sampai kapan kita akan menjadi bangsa mengerikan seperti itu?

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Jihan Audy, Biduan Koplo Berusia 13 Tahun yang Bikin Netizen Jatuh Hati

Mengenal NDX AKA, Mantan Kuli Bangunan yang Sukses Melejitkan Lagu Hip Hop Dangdut