Setia Jadi Teman Tidur Kita, Inilah Asal Muasal Guling yang Nggak Kamu Tahu

Konon, banyak negara lain yang nggak punya tradisi tidur sambil memeluk guling loh!

Adakah diantara kalian yang terbiasa tidur dengan memeluk guling? Karena kebiasaan itulah, terkadang kita jadi nggak bisa tidur kalau nggak ada guling. Bahannya yang empuk dan enak dipeluk membuat guling jadi teman tidur yang setia menemani sedari kita jomblo sampai ngga jomblo lagi.

Tapi tahukah kamu asal muasal guling? Mengingat nenek moyang kita pasti awalnya tidak mengenal guling sebagai perangkat tidur, kapan dan bagaimana sejarahnya hingga guling bisa jadi bagian dari tradisi tidur orang Indonesia? Ini dia jawabannya.

Istri Belanda

Merujuk pada salah satu roman sejarah karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Jejak Langkah, dijelaskanlah asal usul guling. Diceritakan bahwa guling di masa lalu hanya dijumpai di kawasan Hindia Belanda (kini Indonesia) saja. Syahdan, para penjajah bangsa kita yang berasal dari Belanda datang ke Tanah Air tanpa membawa istri maupun kaum wanita.

Raffles lah orang yang bertanggungjawab atas istilah Dutch Wife (hannsite.blogspot.com)

Karena dikenal pelit, banyak orang Belanda tidak mau memelihara gundik di tanah jajahan. Mereka pun menemukan jalan keluarnya dengan membuat guling sebagai teman tidur sekaligus pengganti istri. Atas dasar inilah Thomas Stamford Raffles, Gubernur Hindia Belanda asal Inggris, menyebut guling sebagai Dutch Wife atau Istri Belanda untuk mengejek kebiasaan orang-orang tersebut.

Lahir di abad ke-18

Keberadaan guling yang lahir dari ‘akal-akalan’ orang Belanda itu mulai marak digunakan sekitar abad ke-18 hingga 19 Masehi. Bentuknya pun merupakan perpaduan banyak budaya seperti Eropa, Indonesia dan China yang merupakan penduduk Hindia Belanda di masa itu. Bentuk guling yang memanjang pun sebelumnya juga sudah dikenal di beberapa budaya Asia Timur seperti China, Jepang dan Korea, meskipun bahannya terbuat dari bambu.

Chikufujin, guling khas Jepang yang terbuat dari bambu (yahoo.co.jp)

Keberadaannya yang merupakan ‘pengganti istri’ atau teman tidur membuat guling memiliki harga yang mahal dan hanya bisa dimiliki oleh kaum kelas atas. Meski begitu, lambat laun kebiasaan orang Belanda tidur dengan guling pun mulai diikuti oleh banyak masyarakat umum sehingga guling tidak lagi menjadi barang mewah.

Hotel bergaya Barat rata-rata tidak akan memberikan guling di dalam kamar, karena memang mereka tidak mengenal tradisi tidur dengan guling (landmarklondon.co.uk)

Kalau kamu menginap di hotel berbintang, coba perhatikan baik-baik, apakah ada guling atau tidak di situ? Jawabannya: tidak. Ini karena hotel-hotel berbintang pada umumnya menganut gaya Barat yang tidak mengenal guling. Konon, tidur dengan guling hanya dikenal di Indonesia dan Belanda saja lho!

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Sudah Memperjuangkan Tapi Dia Memilih Orang Lain? Mungkin 4 Kenyataan Inilah yang Harus Kamu Hadapi

5 Perjuangan Pria Untuk Menikahi Kekasihnya yang Jarang Disadarkan Oleh Para Perempuan