Apakah Menjadi Seorang Istri Juga Berarti Berhentinya Semua Hobi?

Apakah pernikahan adalah sebuah penghalang untuk terus bersenang-senang?

Setiap orang punya cara berbeda untuk membahagiakan diri. Ada yang bahagia dengan cara traveling, ada yang sumringah dengan wisata kuliner, ada yang merasakan surgawi dari hobi otomotifnya, dan.. ada juga yang tertawa setiap kali mampu merusak kebahagiaan orang lain.

Seperti teman saya, Nana namanya, yang memilih bahagia dengan cara yang sederhana, musik. Demi mendapat salah satu kenikmatan duniawi itu, dia rutin mengunjungi konser musik favoritnya, memborong merchandise official, atau sekadar bersenandung na na na.., persis seperti namanya.

Kebahagiaan yang tak pernah tergantikan

Al-kisah berawal ketika Nana duduk di kelas 3 SMP. Saat itu, dia sudah jatuh hati dengan salah satu band lokal Jogja, Sheila On 7. Mulai dari sekadar suka hingga menjadi seorang groupies, rupanya dia benar-benar tenggelam di circle SO7 dan menjadikannya sebagai sumber kebahagiaan utama.

Semua orang punya cara berbeda untuk membahagiakan diri. Salah satunya, ada orang-orang yang begitu senang ketika berada di tengah keramaian sebuah konser musik. | pinterest.com

Bahkan, ketika Adam hengkang dari kesatuan SO7 dan nama band legendaris itu meredup akibat termakan zaman, Nana seperti kehilangan arah. Tak ingin terus merana dalam keresahan dan kegalauan, dia pun mulai mencari kebahagiaan lain dengan mendatangi konser musik selain SO7.

Dan benar saja, dengan cara move on yang terkesan biadab itu, Nana bisa mendapatkan lagi kebahagiaan yang sempat hilang, dan semakin yakin bahwa musik dan segala printilan-nya merupakan kebahagiaan yang tak pernah tergantikan, baginya. Bagi dia, musik adalah segalanya.

Menjadi seorang istri = berhentinya semua hobi?

Hingga pada suatu hari –atau tepatnya tiga minggu yang lalu, Nana dikirimi sebuah chat WhatsApp oleh temannya yang berisi sebuah foto di mana dia sedang nonton drama Korea ditemani suaminya di rumah. Tak ingin kalah, Nana pun membalasnya dengan foto selfie dirinya di depan panggung.

“Udah nggak zaman, Say. Kamu itu udah tua, udah jadi istri dan mau jadi ibu, dasteran deh.”

Mendapat respon menohok seperti itu, Nana langsung dirundung keresahan yang begitu hebat hingga ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya, “apakah aku akan terus seperti ini, nonton konser di sana-sini, berdesak-desakan di malam hari, dengan menyandang status seorang istri?”

Bagi seorang wanita yang sudah bersuami, apakah keseruan seperti ini tak akan pernah bisa dirasakan lagi? | sheilaon7.com

Merasa menerima bogem mentah, Nana hanya bisa diam dan sedikit tersenyum kecut. Lalu dia berpikir, apakah sebuah pernikahan bisa membuat seseorang kehilangan hobinya? Apakah menjadi seorang istri berarti juga harus kehilangan waktu untuk bersenang-senang di luar rumah?

Orang tua Nana juga kerap bertanya, apa sih yang dia dapat dari seringnya menyambangi konser-konser musik? Uang? Tidak. Bahkan, dia harus kehilangan uang untuk sebuah tiket. Pacar? Apa lagi.. lha wong suaminya dia kenal saat bertemu di perpustakaan dan kebetulan duduk sebelahan.

“Aku cuma dapet kesenengan dan kepuasan, Pak,” jawab Nana kepada Bapaknya, dulu. Terus terang, dia sendiri sulit menggambarkan kebahagiaan dan kepuasan itu dengan kata-kata. “Kalau kamu punya hobi kayak aku, kamu pasti paham perasaanku,” katanya pada saya suatu ketika.

Pernikahan bukanlah penghalang

Meski begitu, harus diakui, Nana memang terlanjur resah dengan omongan temannya yang hobi drama Korea itu. Sempat terlintas di pikirannya, jika dia sudah punya anak nanti, dia berencana memboyong anak dan suami untuk nonton konser dengan berbekal tiket keren bertajuk VIP.

Mengapa Nana sampai berpikir radikal seperti itu? Itu, karena dalam beberapa konser musik, dia sering melihat mamah-mamah muda yang sehobi dengannya, berani memboyong serta suami dan anaknya untuk ikut bersorak di deretan penonton terdepan, yang nyaman dan penuh pengawasan.

Nonton konser musik bersama kelarga? Mengapa tidak. | shutterstock.com

Tentu saja, Nana tidak melihat pemandangan inspiratif seperti itu di setiap konser, hanya pada event-event bebas rokok atau outdoor saja. Tapi paling tidak, itu sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan dirinya bahwa, pernikahan bukanlah penghalang untuk meneruskan sebuah hobi.

“Apa aku salah?” tanya Nana penuh nada sumingrah.

“Nggak kok,” jawab saya. “Menyadari ada cewek-cewek kayak kamu, aku malah jadi kepikiran, mungkin saja saat ini sedang ada sepasang suami-istri yang sedang asyik menikmati indahnya sunset di puncak Merbabu, dengan seorang anak 12 tahun di tengah-tengah mereka.”

Who knows? Tuhan kan Maha Kuasa.


Rekomendasi #SobatInovasee:

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

2 Pings & Trackbacks

  1. Pingback:

  2. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *