Polyamory, Cara lain Merasakan Bahagia dalam Menjalin Hubungan Cinta

Hubungan romantis dengan lebih dari satu orang pada waktu bersamaan, tapi bukan selingkuh atau poligami. Lah?

Banyak orang menganggap hubungan monogami dapat menghidupkan komitmen, kepercayaan, dan cinta. Namun, ternyata mereka yang menganut hubungan polymory mengaku merasa lebih puas, lebih percaya pada pasangan, bahkan tidak cemburuan. Memangnya, apa sih polymory itu?

Simbol polymory, sebuah hubungan yang katanya lebih bahagia daripada monogami. | estystudio.com

Saya tidak bicara soal poligami seperti yang sudah umum dipahami, melainkan hubungan nonmonogami konsensual atau polyamory. Polyamory adalah saat seseorang, baik itu pria maupun wanita, suami atau istri, punya hubungan romantis dengan lebih dari satu orang pada waktu bersamaan.

Tidak cemburuan dan lebih percaya pada pasangan

Meskipun terdengar sedikit ‘nakal’ dan tidak ada perbedaan antara pelaku hubungan monogami dan nonmonogami dalam hal kepuasan dan gairah cinta, namun nyatanya, kadar cemburu pelaku polymory justru lebih rendah, dan kepercayaan antar pasangan lebih besar dari pelaku monogami.

Ada beberapa alasan mengapa pasangan polymory tidak cemburuan. Salah satunya, adalah karena mereka punya izin untuk berhubungan dengan orang lain. Kesepakatan bersama ini cenderung menahan motivasi untuk merasa cemburu.

Pelaku polymory cenderung tidak cemburuan dan lebih percaya pada pasangan. | pixabay.com

Karena adanya kesepakatan dan saling pengertian ini, mereka merasa tak perlu lagi untuk mengecek smartphone pasangan demi mencari bukti-bukti perselingkuhan.

Dan soal anggapan bahwa pelaku polymory tidak cukup saling memperhatikan pasangan agar bisa bahagia dalam hubungan, ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Pasalnya, mereka justru lebih merasa puas, percaya, berkomitmen, dan bergairah dalam hal cinta dengan pasangan utamanya ketimbang pasangan kedua.

Bias dan tekanan budaya

Sampai di sini, saya yakin banyak dari #SobatInovasee yang merasa keberatan dengan apa yang saya uraikan di atas. Saya maklum, karena kita semua dipengaruhi oleh bias dan tekanan budaya yang lebih condong mendukung cara hidup yang dapat diterima secara sosial, dan logika.

Seperti diketahui, kebanyakan budaya dan agama mengajarkan bahwa seorang pria harus setia pada satu orang perempuan seumur hidupnya, begitu pun sebaliknya. Sehingga, hubungan di luar itu dianggap tabu.

Hanya saja, bias dan tekanan budaya kita lebih condong mendukung cara hidup yang dapat diterima secara sosial, dan logika. | everydayfeminism.com

Karena itu, saya tidak menyarankan kalian semua untuk mengesampingkan konsep pernikahan dan menggantinya dengan hubungan polymory mutlak. Apa yang saya uraikan di atas merupakan hasil riset dari Sage Journal tentang Investigation of Consensually Nonmonogamous Relationships.

Jadi, silahkan untuk menyikapinya dengan skeptisisme yang cukup.

Bagaimana.. suka dengan apa yang baru saja kamu baca? Kalau iya, maka jangan ragu untuk membagikannya kepada teman dan orang-orang tercinta.

Salam, dan jangan lupa bahagia!

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

2 Pings & Trackbacks

  1. Pingback:

  2. Pingback:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *