Antara Pelakor dan Leleman, Siapa Sebenarnya yang Paling Bersalah dalam Sebuah Perselingkuhan?

Membicarakan masalah pelakor memang tidak pernah ada habisnya ya?

Istilah pelakor (perebut laki orang) memang sedang marak jadi bahan perbincangan dimana-mana, terlebih saat viral beredar video seorang ibu yang menghujani terduga pelakor dengan uang ratusan juta rupiah karena menganggap wanita tersebut mendekati suaminya dengan tujuan uang semata.

Ketika sebuah perselingkuhan terjadi, kebanyakan masyarakat Indonesia akan langsung menyalahkan kehadiran wanita pihak ketiga (yang akhirnya disebut sebagai pelakor). Padahal, ada peran lelaki lemah iman (leleman) yang juga turut mengakomodasi terjadinya perelingkuhan itu. Lantas, siapa yang paling salah?

1. Kesalahan pasangan sah

Tiada asap tanpa api. Begitu juga dengan perselingkuhan. Tidak akan terjadi sebuah perselingkuhan jika tidak ada pihak yang memulai perselingkuhan dan pihak yang meresponnya. Secara normatif, kita semua tahu bahwa orang yang sudah menikah adalah milik pasangan sahnya. Meski begitu, nyatanya ada saja yang tergoda berselingkuh karena merasa telah menemukan oase baru di tengah gurun pasir, yakni si pihak ketiga.

Ada kalanya perselingkuhan terjadi karena salah satu pihak merasa pasangan sahnya mulai berubah dan tidak bisa memberikan apa yang ia mau (detik.net.id)

Ada yang beralasan bahwa pasangannya di rumah mulai berubah setelah menjalani tahun-tahun hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Jika dulu istri selalu tampil cantik dan sedap dipandang, lama kelamaan istri mulai tidak terlalu merawat dirinya hingga sang suami merasa istrinya jadi kalah menarik dari wanita-wanita lain yang dikenalnya, baik dari lingkungan kerja maupun di tempat-tempat lain.

Meski sudah melewati masa-masa pernikahan bertahun-tahun lamanya, jangan lantas mengubah dirimu jadi pribadi yang cuek dan tak lagi bisa memberikan kemesraan atau perhatian untuk pasangan (thoughtcatalog.wordpress.com)

Begitu pula jika dilihat dari kacamata istri. Jika dulunya sang suami romantis, perhatian dan selalu ada untuknya, lama kelamaan itu semua berubah. Sang suami mulai cuek, jarang memberikan perhatian dan terkesan masa bodoh. Istri yang merasa tidak mendapatkan apa yang ia butuhkan lantas lebih mudah tergoda jika ada lelaki lain yang ternyata bisa memberikan apa yang ia inginkan itu. Jadi, bisa disimpukan jika pasangan sah juga punya andil dalam munculnya perselingkuhan antara pasangannya dengan pihak ketiga.

2. Kesalahan pelakor

Melihat perselingkuhan dari sisi pelakor bisa jadi amat menarik. Pasalnya, pihak inilah yang paling mendapat stigma buruk di masyarakat. Ia seolah menjadi biang keladi keretakan rumah tangga orang lain karena menyelinap masuk ke tengah-tengah hubungan sepasang suami istri. Ya, pelakor bisa jadi orang paling bersalah dalam sebuah perselingkuhan jika memang ia yang aktif masuk dan merusak sebuah relasi pernikahan.

Tidak selalu pelakor yang jadi penyebab utama perselingkuhan (sanook.com)

Motifnya tentu bermacam-macam, mulai dari yang betul-betul karena jatuh cinta dengan suami orang sampai menjadi terobsesi, hingga yang hanya mengejar material dari suami orang yang kebetulan royal dan senang membagi-bagikan kekayaannya untuk wanita tersebut. Namun perlu diingat, tidak semua wanita yang jadi pihak ketiga harus menanggung kesalahan sendiri, karena ada juga kesalahan yang muncul paling besar dari leleman dan akan kita bahas pada poin selanjutnya.

3. Kesalahan leleman

Saat kita mendengar kabar berita tentang perselingkuhan, hampir bisa dipastikan pihak lelaki jarang tersentuh dari pemberitaan. Di media misalkan. Hampir selalu keributan yang disorot adalah dari pihak istri sah dengan wanita pihak ketiga yang disebut-sebut sebagai pelakor. Istri sah ngamuk-ngamuk karena merasa ada wanita tidak jelas yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya dan akan merebut orang terkasih. Sementara wanita pihak ketiga mati-matian membela diri dan berkata bahwa dirinya pun hanya korban.

Lelaki lemah iman juga punya andil besar dalam sebuah perselingkuhan (infokecantikan.co)

Sementara itu, seorang lelaki lemah iman yang kita sebut saja sebagai leleman hanya bisa diam seribu bahasa melempem bak kerupuk tersiram air. Padahal, saya yakin kita semua menyadari bahwa tidak mungkin ada pelakor jika tak ada respon positif dari seorang leleman. Bahkan bisa jadi si leleman itulah yang justru memulai perselingkuhan dan mengkhianati kepercayaan istri sahnya. Namun ketika perselingkuhannya terkuak, ia hanya diam dan tak sedikitpun berani mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Jadi, sebenarnya sudah bisa disimpulkan bahwa semua pihak yang terlibat jelas punya andil dalam menyumbang kesalahan. Meski berat untuk diterima hati nurani, namun saya cenderung setuju dengan apa yang pernah dikatakan aktor Hollywood, Johnny Depp. Aktor nyentrik itu pernah berujar: “Jika kamu mencintai dua orang pada saat yang sama (istri dan wanita lain), maka pilihlah yang terakhir. Karena jika kamu betul-betul mencintai orang yang pertama, maka kamu tidak akan jatuh cinta pada orang yang kedua.”

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *