Buat Kamu Pendaki Gunung Abal-Abal, Ini Loh Alasan Kamu Ga Boleh Petik Edelweiss Sembarangan

Jangan sampai kamu naik gunung cuma buat gaya-gayaan deh…

Sejak dahulu, mendaki gunung adalah salah satu aktivitas yang menarik bagi banyak orang. Keindahan alam dan panorama yang hanya bisa disaksikan dari ketinggian puncak gunung seolah menjadi obsesi tersendiri sehingga membuat para pendaki gunung rela bersusah-payah melewati track pegunungan yang berat.

Di luar itu semua, ada pula yang mendaki gunung karena penasaran untuk melihat langsung flora endemik pegunungan yang legendaris itu: bunga Edelweiss. Bunga ini mendapat julukan sebagai bunga abadi karena indah dan tak mudah layu. Sayangnya, banyak pendaki gunung yang nggak paham bahwa kita nggak boleh memetik Edelweiss sembarangan.

Pendaki abal-abal yang norak

Setelah sekian banyak informasi yang beredar mengenai apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan di puncak gunung, secara mengherankan masih saja banyak dijumpai kasus pendaki gunung yang melanggar itu semua. Mulai dari meninggalkan sampah seenaknya hingga memetik Edelweiss dengan dalih sebagai kenang-kenangan. Untuk pendaki seperti ini, bolehlah kiranya kita menyebut mereka pendaki gunung abal-abal.

Surat edaran larangan mendaki bagi orang-orang yang kedapatan mencabut Edelweiss – Twitter

Pemetikan bunga Edelweiss ternyata masih terus berulang. Terakhir, sekelompok pendaki diketahui telah memetik bunga Edelweis Jawa di atas Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dengan pedenya, mereka mengunggah foto-foto di puncak gunung sambil membawa Edelweiss. Padahal, mencabut Edelweiss adalah perbuatan terlarang yang bisa dikenai hukuman sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Hayati Ekosistem pasal 33 ayat 1. Kini, para pemetik Edelweiss itu mendapat ‘kehormatan’ menjadi duta pelestarian tanaman sebagai hukumannya.

Kenapa kita nggak boleh memetik Edelweiss?

Bukan tanpa sebab jika kita nggak boleh seenaknya memetik Edelweiss. Sebagai informasi, bunga Edelweiss yang tumbuh di pegunungan Indonesia (contoh: Gunung Gede, Gunung Rinjani, dan Gunung Merbabu) berbeda dengan Edelweiss yang tumbuh di Eropa, dan jenis Edelweiss Jawa ini dalam kondisi terancam punah. Bahkan, kabarnya kita sudah nggak bisa lagi menemui Edelweiss di Gunung Semeru dan Bromo. Padahal, Edelweiss menjadi sumber makanan bagi banyak spesies serangga serta menjadi tempat hidup bagi beberapa jenis lumut dan lichen.

Kalau kamu benar mencintai alam, kamu cukup berfoto saja saat berjumpa dengan Edelweiss dan jangan memetiknya – uajy.ac.id

Meski begitu, kamu masih bisa melihat bunga yang juga disebut sebagai Senduro ini di Tegal Alun Gunung Papandayan. Lokasi ini boleh dibilang menjadi tempat terbaik untuk melihat Edelweiss karena memiliki luas hingga 32 hektar dan hampir keseluruhannya ditumbuhi Edelweiss yang mekar alami. Alternatif lainnya, kamu juga bisa mengunjungi Alun-alun Suryakencana dan Lembah Mandalawangi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Meski begitu, kamu tetap nggak boleh memetiknya. Jadi, puaskan diri untuk melihat bunga Edelweiss dari dekat di tempat-tempat tersebut.

Mitos Edelweiss

Mungkin ada dari kita yang bertanya-tanya, kenapa sih orang-orang tertarik untuk memetik Edelweiss? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Paling sepele tentu saja karena alasan tertarik, untuk kenang-kenangan, atau bahkan sekedar gaya-gayaan saja. Namun selain alasan-alasan konyol itu, ternyata ada juga alasan-alasan lain yang terkait dengan mitos.

Edelweiss sering dikaitkan dengan mitos kelanggengan hubungan percintaan – youtube

Seperti julukannya sebagai bunga abadi, Edelweiss juga dianggap sebagai simbol keabadian cinta. Banyak orang meyakini jika kita memberikan bunga ini kepada pasangan, maka cinta kita akan abadi. Makanya, banyak anak muda yang mendaki gunung bersama pasangannya bela-belain metik bunga ini karena percaya mitos tersebut.

Edelweiss Jawa atau bunga Senduro dipercaya punya banyak khasiat bagi kesehatan – wikimedia.org

Ada juga yang memetiknya karena Edelweiss disebut mengandung antioksidan dan antimikroba yang berguna sebagai anti penuaan. Untuk mengonsumsinya, ekstrak Edelweiis dicampur ke dalam secangkir susu panas dengan madu. Ekstrak Edelweiss juga konon bisa menyembuhkan aneka penyakit macam TBC, disentri, dan diare. Oleh karenanya, nggak heran jika banyak orang yang tertarik untuk memanfaatkannya.

Duh, obat-obat untuk penyakit seperti itu kan nggak harus pakai Edelweiss karena masih banyak alternatif lainnya. Apalagi soal mitos percintaan, mending kamu menyayangi dan mencintai pasangan dengan sepenuh hati dan memasrahkan sisanya pada Tuhan. Ingat, urusan jodoh dan keawetannya itu di tangan Tuhan, bukan di segenggam bunga Edelweiss yang dipetik sembarangan~

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Love Bombing, Tren Kencan Romantis yang Bahayanya Bisa Bikin Nangis

Memaksa Istri Hamil Adalah Satu dari Sekian Banyak Kekerasan dalam Rumah Tangga