Tak Perlu Tanda Tanya, Karena Kadang Cinta Memang Membutuhkan Jeda

Jeda bukan berarti putus. Itu, kalau kamu sudah bisa berpikir dewasa

992
SHARES

Cinta bisa datang dengan tiga cara: tiba-tiba, terbiasa, atau terpaksa. Dari ketiganya, cinta itu bisa tumbuh subur dan hidup selamanya. Atau sebaliknya, justru mati muda. Bagaimana pun akhirnya, itu semua tergantung bagaimana kamu dan pasanganmu menjaga dan merawatnya.

Semua tergantung kamu. Mau menjaga dan merawat cinta, atau membiarkannya mati muda (pexels.com).

Dan, merawat cinta itu adalah sesuatu yang rumit, sebenarnya. Misalnya saja ketika kamu dan dia harus berurusan dengan akademis, pekerjaan, atau jarak. Tentu, terlalu sering berpisah bisa sangat berpotensi memudarkan perasaanmu padanya. Namun terlalu sering bertemu juga mudah sekali membuatmu merasa bosan pada akhirnya.

Itulah mengapa, kadang cinta itu membutuhkan jeda. Ini bukan bercanda, mengada-ada, dan kamu tak perlu banyak tanya. Karena tiga alasan berikut ini, sudah sangat cukup untuk menjawab pertanyaan ‘mengapa’ yang pasti sedang ada di pikiranmu sekarang.

1. Jeda, adalah untuk memastikan kamu dan dia tetap punya ruang gerak

Mau mengelak seperti apapun, kamu harus percaya kalau hubungan cinta itu berarti ikatan. Dalam arti yang lebih radikal, itu juga berarti batasan, kekangan. Meskipun kamu nyaman dengan segala keterbatasan itu, kamu pasti masih tetap membutuhkan waktu-waktu pribadi.

Terlepas dari keikhlasanmu dijerat cinta, kamu pasti masih tetap membutuhkan me time yang berharga (pexels.com).

Ketika waktu-waktu me time itu sudah dikudeta oleh cinta, maka sepakat melakukan jeda untuk sementara waktu adalah pilihan yang berguna. Karena pada akhirnya, keputusan bersama itu akan berdampak positif pada kamu, pasanganmu, dan hubungan kalian.

2. Untuk menyegarkan lagi rutinitas yang (sudah) membosankan

Sama halnya dengan pekerjaan, suatu saat kamu pasti akan sampai pada titik jenuh dari hubungan cinta yang kamu jalani. Di saat seperti itu, kamu benar-benar merasa bosan hingga membutuhkan sesuatu yang bisa me-reset pikiran. Liburan, misalnya.

Setelah sejenak melupakan pasangamu, maka rutinitas bersamanya adalah hal yang pasti ingin kamu lakukan segera (pexels.com).

Percayalah, liburan dengan pasangan bukanlah solusi yang harus kamu ambil. Karena dengan ‘melupakannya’ beberapa saat, maka kamu bisa kembali dari liburanmu dengan perasaan rindu dan semangat luar biasa untuk menjalani rutinitas hubungan dengannya lagi.

3. Dan, untuk merenungkan ke mana arah hubunganmu

Kalau kamu masih sekolah atau kuliah, mungkin saja kamu dihantui dilema antara memprioritaskan jenjang pendidikan atau hubungan. Dan kamu yang sudah berusia mapan, hanya tinggal menunggu waktu bagi keluargamu untuk menanyakan kapan kamu akan melangsungkan pernikahan.

Kamu serius membangun hubungan cinta atau hanya bersenang-senang? (pexels.com).

Kalau kamu dan pasangamu belum bisa juga memutuskan semua itu, istirahatlah sejenak dari hubungan itu untuk merenunginya dalam-dalam. Gunakan semua kata tanya untuk memastikan hubungan itu menjadi benar-benar jelas.

Termasuk, apakah kamu dan dia ingin selamanya bersama, atau hanya ingin sekadar bersenang-senang dan membiarkan cinta kalian mati terlalu muda?

Jeda dalam hubungan cinta bukanlah sinonim dari kata putus. Itu, kalau kamu mau berpikir dewasa dan mengesampingkan semua ego di antara kamu dan dia. Termasuk ego untuk harus selalu bersama. Setiap detik, setiap menit, dan setiap-setiap yang lainnya.

992
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."