Inspiratif! Guru Ini Ajarkan Bahaya Bullying pada Muridnya Melalui Dua Buah Apel

Cara guru ini bisa kita tiru jika kesulitan untuk menasehati anak perihal bullying

Ada banyak sebab kenapa bullying masih terus terjadi dimana-mana. Perilaku agresif yang memanfaatkan ketidakseimbangan kekuasaan atau kekuatan ini bahkan juga sering kita jumpai sejak di bangku sekolah. Mulai dari memukul, menendang, mendorong, meludah, mengejek, menggoda, penghinaan rasial, pelecehan verbal, dan mengancam seringkali dianggap sebagai sebuah kewajaran jika konteksnya dipandang sebagai niat bercanda antar teman.

Padahal, pembiaran seperti itulah yang membuat kita perlahan-lahan jadi terbiasa melakukan bullying. Dampaknya pun terasa hingga kita dewasa. Sebagai contoh kecil, coba saja cek kolom komentar pada akun-akun Instagram macam Lambe Turah dan sejenisnya. Di sana, kita bisa melihat betapa kejinya orang-orang dewasa mengomentari hidup orang lain dengan caci maki serta hujatan atau tuduhan yang tak berdasar.

Dampak bagi korban bullying

Kita mungkin enteng saja mengata-ngatai orang lain di kolom komentar media sosial. Alasan kita: kita tidak mengenal langsung orang itu, jadi kita bisa leluasa seenaknya menghujat orang tersebut tanpa perlu merasa sungkan. Namun pernahkah kita membayangkan dampaknya bagi si korban? Ketauilah bahwa dampak bullying bukan hanya kepada fisik saja, namun juga pada psikis yang bisa menyebabkan depresi bahkan sampai kematian.

Bullying menyebabkan dampak yang buruk (zliving.com)
Korban bullying perlahan-lahan akan memiliki emosi negatif seperti dendam, marah, takut, tertekan, sedih, malu, selalu merasa terancam dan emosi negatif lainnya. Jika terus berlanjut, korban akan merasa dirinya tidak berharga, rendah diri, dan membuatnya merasa enggan untuk berinteraksi. Paling buruk, ia bisa mengalami rasa takut berlebihan yang membuatnya depresi dan berujung pada keinginan untuk bunuh diri.

Pelajaran dari buah apel

Karena menyadari dampak buruk bullying, seorang guru bernama Rosie Dutton di Tamworth, Birmingham, Inggris, ingin menanamkan sikap menolak perilaku bullying pada anak didiknya sedari kecil. Cara yang ia lakukan sebetulnya terbilang sederhana, namun harus diakui cukup brilian dan mudah dipahami oleh anak-anak, yaitu menggunakan analogi dua buah apel.

Dutton sengaja menyiapkan dua buah apel segar yang sama baiknya sebelum masuk kelas. Kemudian, salah satu apel tersebut ia jatuhkan ke lantai berulang kali hingga bentuknya menjadi buruk. Dengan demikian, ia telah memiliki dua buah apel: salah satunya berwujud baik dan yang lainnya buruk. Kedua apel inilah yang akan menjadi analogi perilaku bullying.

Rosie Dutton, guru yang punya cara menarik untuk menasehati murid-muridnya (facebook)

Saat sudah di dalam kelas, Dutton mengambil apel yang jelek untuk ditunjukkan pada murid-muridnya. Ia lantas mengejek apel tersebut. “Kamu apel yang jelek! Kamu buruk, rasamu pasti tidak enak dan dagingmu busuk!”. Meski heran melihat tingkah gurunya, namun para murid itu patuh saja saat diminta Dutton untuk ikut serta mengejek si apel jelek.

Sesudahnya, Dutton ganti mengambil apel yang bagus. Kali ini ia tidak mengejek apel tersebut, namun justru memujinya dengan kalimat seperti: “kamu apel yang bagus, baumu harum dan kulitmu sangat cerah!”. Lagi-lagi, Dutton meminta para murid melakukan hal yang sama.

Saat semua anak di kelas sudah selesai memuji apel tersebut, Dutton lantas membelah kedua apel tersebut dan memperlihatkannya pada para murid. “Ini adalah apel yang kita puji tadi, bagaimana apakah tampak bagus? Lihat dalam apel ini terlihat bersih dan segar. Namun coba sekarang kita belah apel yang telah kita ejek tadi. Begitu terbelah, bagian dalamnya terlihat lebam dan tidak tampak putih bersih.”

Melalui analogi dua buah apel inilah Dutton mengajari murid-muridnya untuk menolak bullying (rosie dutton)

Dutton lantas menasehati muridnya melalui analogi kedua buah apel tersebut. Buah apel yang dihina habis-habisan tadi bentuknya jadi jelek, dalamnya remuk dan tidak bersih lagi. Begitu pula yang dialami oleh seorang manusia yang mendapat hinaan atau bullying. Oleh karenanya, Dutton meminta para muridnya untuk tidak mem-bully orang lain karena bisa berakibat seperti apel yang buruk tadi. “Jadi jika kalian melakukan bullying atau sering menghina, mengejek teman kalian, maka jika kamu lihat dia baik-baik saja, namun dalam jiwa dan perasaan mereka akan sangat terluka, marah, sedih, kecewa dan bahkan takut”.

Apa yang Dutton sampaikan ini lantas diunggah ke laman Facebook Relax Kids Tamworth. SOntak, postingan itu menjadi viral dan kebanjiran reaksi positif dari para netizen. Melalui tindakan yang dilakukan oleh Dutton, kita jadi mendapat inspirasi untuk mengajarkan anak menolak bullying dengan contoh yang sederhana namun tepat sasaran.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Justru Keributan dalam Hubungan Kadang Diperlukan Untuk Menumbuhkan Keromantisan

Bahagiakan Diri Sendiri Saja Karena Membahagiakan Semua Orang Bukan Tugasmu