Acara Mata Najwa Pamitan, Fix, Acara Tv Hanya Sekedar Tontonan dan Kehilangan Tuntunan

Selamat tinggal acara televisi yang mendidik!

Bulan Agustus ini hendaknya menjadi bulan yang menggembirakan bagi segala elemen masyarakat Indonesia. Sebab bulan Agustus inilah kita kembali merayakan momen kemerdekaan bangsa Indonesia yang dirayakan setiap tahunnya.

Najwa Shihab saat memandu acara Mata Najwa (tirto.id)

Namun sepertinya kemeriahan bulan Agustus tahun ini terasa kurang sempurna. Khususnya bagi mereka pecinta acara Mata Najwa, sebab di bulan Agustus ini, Najwa Shihab selaku pemandu acara tersebut mengumumkan jika acara Mata Najwa akan segera menemui episode terakhirnya.

Setelah 7 tahun mengudara, Najwa Shihab mengumumkan mengundurkan diri dari acara Mata Najwa

Najwa Shihab melambungkan namanya di dunia jurnalis setelah dirinya memandu acara Mata Najwa yang tayang di Metro tv. Acara Mata Najwa pertama mengudara pada tanggal 25 November 2009 dengan tema yang diangkat “Dunia dalam Kotak Ajaib”.

Acara Mata Najwa pertama tayang pada 25 November 2009 (tribunnews.com)

Kini setelah 9 tahun acara Mata Najwa tayang, Najwa Shihab selaku tuan rumah Mata Najwa mengumumkan mengundurkan diri dari Metro tv. Pengumuman tersebut juga mengabarkan jika acara Mata Najwa akan segera tutup usia.

Surat pamitan Najwa Shihab di Instagram (Instagram.com)

Pengumuman pengunduran diri Najwa Shihab diumumkan melalui akun instagram pribadi Najwa Shihab, pada tanggal 8 Agustus 2017 yang lalu. Pengumuman pengunduran diri Najwa Shihab dan acara Mata Najwa pun sontak membuat warganet merasa kaget. Sebab acara yang dikenal kritis mengawal perpolitikan di Indonesia ini cenderung tiba-tiba memutuskan menyudahi acara tersebut.

Warganet kehilangan acara televisi yang berkualitas

Berpamitannya Najwa Shihab serta berakhirnya acara Mata Najwa di layar kaca tentu membuat para penggemar acara tersebut bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang membuat acara yang dikenal “berani” mengkritik pemerintah ini harus berkemas-kemas begitu mendadak? Apakah hal ini berkaitan dengan episode terakhir Mata Najwa yang menayangkan wawancara ekslusif dengan Novel Baswedan?

Sebelum berpamitan, Mata Najwa menayangkan wawancara ekslusif dengan Novel Baswedan, petinggi KPK yang di teror (infoteratas.com)

Di lain sisi, para warganet merasakan jika berakhirnya acara Mata Najwa, berarti berakhir pula acara Tv yang berkualitas di Indonesia. Meskipun di stasuin Tv lain ada acara yang hampir serupa dengan Mata Najwa, seperti Indonesia Lawyers Club (ILC), namun acara tersebut tidak serta merta bisa menggantikan acara Mata Najwa.

meskipun di stasiun Tv lain ada acara yang hampir serupa, namun Mata Najwa tidak bisa digantikan bagi penggemarnya (netmedia.co.id)

Keberanian Najwa Shihab dalam mewawancarai beberapa aktor politik, ketajaman pertanyaan Najwa Shihab yang kadang membuat politikus mati kutu, serta nilai independensi acara Mata Najwa yang dinilai masih dipegang teguh sebagai asas jurnalisme, membuat acara Mata Najwa tidak bisa digantikan oleh yang lainnya.

Acara televisi setelah acara Mata Najwa “disemayamkan”

Televisi sebagai bagian dari media massa, memangku empat fungsi pokok. Yaitu sebagai media informasi, hiburan, pendidikan, dan kontrol sosial. Namun sayangnya, televisi yang ada di Indonesia saat ini belum proposional dalam memberikan keempat tugas utamanya tersebut. Banyak televisi yang hanya menanyangkan acara hiburan yang kurang mendidik, seperti reality show settingan, sinetron anak sekolahan yang lebih banyak pacarannya daripada belajar, serta berita-berita gosip para artis yang “tidak begitu penting” bagi masyarakat.

Acara Tv saat ini yang mendominasi (youtube.com)

Kini setelah acara Mata Najwa usai, yang tersisa dari televisi hanyalah acara hiburan yang tidak memberikan edukasi, acara berita yang pemberitaannya bertendensi dengan politik, serta kabar dari para artis yang tidak jauh-jauh dari isu perselingkuhan, narkoba, dan perceraian.

Sinetron dan anak sekolah pacaran menjadi tontonan rakyat Bangsa yang besar ini (tribunnews.com)

Mengutip perkataan dari Bill Covach dalam buku “Agama Saya Jurnalisme” karangan Andreas Harsono, Covach mengatakan kurang lebih seperti ini “Kemajuan suatu masyarakat dan negara, itu tergantung dari wartawan dan media massa yang ada”. Nah, kalau media massa negara kita seperti ini, bagaimana dengan nasib masyarakat kita?

Bagaimana Menurutmu?

Written by Amin Aulawi (Aw)

Amin Aulawi (Aw)

Penikmat Dunia, Perindu Surga,

Siapapun yang Mengubah Nama Jalan Dewi Sartika Jadi Jalan Dewi Persik di Bekasi, Bercandamu Nggak Lucu!

Biar Ngga Gampang Ketipu, Gunakan Cara Ini Untuk Kenali Emas Asli atau Palsu