5 Stigma Negatif Penyebab Kejombloan di Bandung Melejit

Stigma yang membuat ABG-ABG Bandung terkekang oleh kesendirian tanpa kekasih, dicap sedih karena dikharamkan merindu dan cemburu

Akhir-akhir ini terdengar isu bahwa angka kejombloan di Bandung terus meningkat secara signifikan, sangat bertolak belakang dengan harga BBM yang cenderung stabil dan turun. Apa penyebabnya? Bisakah alibinya diterima logika? Mari kita mengira-ngira.

Jauh sebelum tragedi Mei 1998, kaum jomblo memang sudah merasakan bagaimana sakit dan merananya diremehkan masyarakat awam. Alasannya terlalu sederhana untuk sebuah fenomena cacatnya tenggang rasa, mereka adalah orang-orang yang terkekang oleh kesendirian tanpa kekasih, ialah lajang-lajang yang dicap sedih karena dikharamkan merindu dan cemburu.

flickr.com
flickr.com

Lebih dari itu, jomblo juga disinonimkan dengan malam Minggu yang suram, jalan ke mall sendirian, atau ngenes di kos-kosan. Lalu, apa hubungannya dengan pemuda pemudi Bandung (baca: Sunda) yang bangga dengan panggilan ‘aa’, ‘neng’ dan ‘teteh’ itu? Bukankah mereka juga sama Indonesia-nya dengan kita? Sama merdekanya dengan kita?

Berawal dari stigma negatif yang terlanjur populer

Ternyata ada stigma negatif yang melatarbelakangi merebaknya isu itu. Ternyata, ada pandangan keliru yang lebih dulu populer terhadap orang Bandung. Di berbagai komunitas umum ataupun terbatas, di banyak forum dengan atau tanpa auditorium, dan di sela-sela warga yang menunggu angkot dengan bijaksana, tersebar kabar memilukan bahwa sebagian besar orang Bandung terkenal dengan kematerialistisannya, malas, punya passion berdandan, durhaka, juga ogah diajak hidup susah.

Pertanyaannya kemudian adalah.. benarkah demikian adanya? Benarkah stigma negatif itu yang menyebabkan melonjaknya persentase jomblo di ranah Sunda?

ucontest.info
ucontest.info

Mari kita membeberkan realita sosial di negara kita. Dibalik ke-geulis-an mojang Sunda yang sudah pasti diamini masyarakat Indonesia, di balik banyaknya musisi dan artis ganteng yang ber-KTP Bandung dan sekitarnya, stigma negatif tentang mereka masih saja dipertahankan hingga sekarang meskipun, belum ada penelitian dari pihak terkait yang bisa membuktikan kebenarannya.

Akibatnya bisa ditebak, generasi Indonesia pada umumnya dan suku Jawa pada khususnya, sejak akil baligh sudah didoktrin oleh orang tua mereka agar jangan sampai jatuh hati pada orang Bandung, apalagi cinta pada pandangan pertama. Para orang tua itu benar-benar takut mendapatkan menantu malas, materialistis, nan durhaka. Padahal sekali lagi, stereotip itu belum bisa dibuktikan dan dibenarkan.

Nah.. agar kita, rakyak Indonesia yang merdeka, tidak semakin terjerumus ke dalam stigma-stigma suram nan murahan, mari kita mencari kebenaran dari tuduhan itu dengan cara yang elegan: jelas dan tidak merugikan.

Soal materialistis itu, bukankah sejak terciptanya uang kita jadi sama materialistisnya?

Karakter materialistis itu sebenarnya sah-sah saja mengingat kebutuhan hidup yang terus meningkat. Normalnya, semua perempuan yang kelak akan menjadi istri sekaligus ibu pasti tidak ingin masa depan keluarga dan anak-anaknya di bawah kemapanan.

singindo.wordpress.com
singindo.wordpress.com

Diakui atau tidak, kita semua ini memikirkan uang dan kesejahteraan. Hanya saja, sifat ‘to the point’ orang Bandung saat menginginkan sesuatu mungkin menjadi satu-satunya alasan mengapa gosip kematerialistisan mereka terlanjur merebak. Mereka sangat berbeda dengan perempuan Jawa (baca: Jawa Tengah dan Jogja) yang terkenal malu saat menginginkan sesuatu.

Perbedaan seperti itu normal? Tentu saja normal.

Mojang Sunda itu cantik-cantik, jadi apa salahnya mereka berhias diri?

Tak cuma perempuan Bandung, semua kaum hawa di dunia dilahirkan oleh ibunya dengan mewarisi sifat suka berdandannya. Jadi, apa tidak terlalu menghakimi jika HANYA perempuan Bandung yang senang berhias diri? Mereka itu cantik-cantik, apa sih salahnya semakin mempercantik diri? Apalagi jika itu dilakukan untuk suami.

klimg.com

Yakin mereka malas?

Untuk tuduhan yang satu ini, sepertinya kita harus mengkaji lebih dalam dengan mengamati pasangan-pasangan Sunda – non Sunda yang ternyata sama bahagianya dengan pasangan lain pada umumnya. Dengan mengesampingkan masalah sayur yang terlalu asin, mayoritas perempuan Bandung tetaplah perempuan baik yang bisa menjadi istri yang baik juga. Tidak malas dan pintar mengurus rumah tangganya.

wajibbaca.com
wajibbaca.com

Stigma durhaka dan ogah hidup susah yang tak berdasar

Tanpa dirayu pun, seorang wanita pasti akan memilih pria mapan dan bertanggung jawab. Begitu pun dengan wanita-wanita yang ditakdirkan lahir di Bandung. Secara logika, itu merupakan standar pemikiran masnusia. Jadi secara logika juga, pasti mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari pria yang rela ngutang demi mengajaknya kencan, kan?

Bukankah kamu yang menikmati hidup di luar ranah Sunda juga begitu? Jadi, di mana salahnya?

pinimg.com
pinimg.com

Sedangkan di sisi lain, stigma terakhir yang menghakimi bahwa orang Bandung cenderung durhaka pada orang tua, sangat mungkin di-viral-kan oleh seseorang yang ogah jadi viral yang menikah dengan wanita atau pria Bandung dan kebetulan, Tuhan ‘mengijinkan’ dia melawan mertua.

Dan pada akhirnya, semua kesalahkaprahan itu memaksa kita, rakyak Indonesia yang merdeka, menuduh salah satu bangsa kita sendiri sebagai kaum yang materialistis, ber-passion dandan, malas, durhaka, dan ogah hidup susah.

Lima alibi miring yang sudah lebih dari cukup untuk membuat ABG-ABG Bandung men-jomblo, terkekang oleh kesendirian tanpa kekasih, dicap sedih karena dikharamkan merindu dan cemburu.

Untuk itu, bagi kamu yang peduli dengan kesamaan hak setiap manusia untuk mencinta dan dicinta, silahkan share pembenaran stigma ini kepada sebanyak-banyaknya teman yang kamu punya, kepada dia yang masih saja fanatik dengan doktrin bahwa orang Bandung (baca: Sunda) itu materialistis, ber-passion dandan, malas, durhaka, dan ogah hidup susah.

Written by Amanes Marsoum

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *