5 Penderitaan Ini Hanya Dipahami Anak Rantau yang Nggak Bisa Mudik Lebaran

Yang lain bisa makan opor ayam, kamu cuma bisa nangis di pojokan~

1k
SHARES

Daaan lebaran tinggal mengitung hari. Di minggu akhir bulan Ramadhan ini banyak masyarakat yang mulai sibuk menyiapkan diri menyambut Idul Fitri. Terutama bagi mereka yang berencana mudik ke kampung halaman. Mudik memang selalu menjadi tradisi saat lebaran. Berkumpul bersama keluarga sambil menikmati seporsi opor ayam menjadi sebuah keharusan. Sayangnya, tak semua orang bisa menikmati mudik lebaran, terutama anak rantau.

Penderitaan anak rantau yang nggak ikutan mudik (everydayfeminism.com)

Banyak alasan kenapa anak rantau nggak bisa ikut mudik lebaran, salah satunya tak mendapatkan tiket angkutan. Kalaupun ada, harganya tak bisa dijangkau anak kost-an. Jika sudah begini, lebaran di tanah rantau menjadi pilihan. Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi. Mau tak mau harus melewatkan momen lebaran tanpa keluarga. Kalau kamu salah satu dari sekian anak rantau yang mengalami, kamu pasti paham 5 penderitaan berikut ini.

1. Mau kemana-mana sendirian, nggak ada teman jalan

Kalau nggak musim lebaran sih mau kemanapun ngajak siapapun mereka selalu siap sedia. Tapi kalau musim lebaran gini, jangan harap deh. Kost aja yang tadinya ramai kaya pasar semakin sepi menjelang Idul Fitri. Semua teman-teman kembali ke kampung halaman, menikmati momen bersama keluarga meskipun hanya beberapa hari saja.

Mau kemana-mana sendirian, nggak ada teman jalan (journalist.sg)

Sementara kamu yang nggak mudik bisa apa. Mau jalan kemana-masa nggak ada teman dan cuma sendirian. Dijalan cuma bisa iri liat mereka yang bisa kumpul sama orang-orang tersayang. Yasudah, setelah ini lebih giat nabungnya biar tahun depan bisa ikutan mudik.

2. Berharap ada seporsi ketupat dan opor ayam yang jatuh dari langit

Lebaran memang nggak lengkap rasanya kalau kamu nggak menyantap menu-menu khas seperti ketupat, opor, rendang hingga sambal goreng. Mungkin nggak bisa mudik kamu masih bisa sedikit ikhlas menerima, tapi kalau nggak mencicipi sederet menu khas ini…ah ini bukan lebaran.

Berharap ada seporsi ketupat dan opor ayam yang jatuh dari langit (dapurelkaje.files.wordpress.com)

Kamu hanya bisa berharap ada seseorang yang mengetuk pintu kamar dan memberimu seporsi opor ayam. Iya, kamu selalu berdoa agar ibu kos atau siapapun berbaik hati mau berbagi. Meskipun pada akhirnya kamu hanya bisa menikmati rendang dari sebungkus mie instan.

3. Maaf-maafan lewat telpon sudah cukup

Melihat orang lain yang bisa sholat Ied bersama keluarga saja sudah cukup sedih, apalagi melihat mereka bermaaf-maafan setelahnya. Bisa sungkem dan mencium tangan bapak ibu selepas sholat Ied memang menjadi keinginan, tapi apa daya ternyata hanya bisa lewat suara.

Maaf-maafan lewat telpon sudah cukup (oxygen.com)

Iya, kamu hanya bisa maaf-maafan lewat telpon. Beruntung jika orang tuamu bisa menggunakan fitur videocall sehingga kamu bisa melihat wajah mereka. Tapi kalaupun tidak, suara bapak ibu saja sudah jadi obat rindu dikala jauh.

4. Nggak mudik gapapa, tapi please warteg jangan tutup dong!

Dan penderitaan masih berlanjut. Setelah berusaha sekuat tenaga mengikhlaskan keadaan bahwa kamu harus lebaran sendirian, kini kamu harus menghadapi kenyataan. Saat lebaran, biasanya semua toko dan warung makan tutup hingga beberapa hari. Nggak masalah sih kalau di kost kamu punya seperangkat kompor dan alat masak, tapi kalau tidak? Apa yang hendak kamu makan?

Nggak mudik gapapa, tapi please warteg jangan tutup dong (thetrentonline.com)

Menahan lapar menjadi sebuah keputusan. Kamu hanya bisa berharap ibu-ibu warteg mau berbaik hati menggelar dagangannya. Tapi jika harapanmu tak terwujud, kamu harus lebih sabar. Iya, sabar menunggu abang baso atau penjual makanan lain yang lewat ketika sore atau malam hari.

5. Lebaran terasa sangat lama…

Saat berkumpul bersama keluarga kamu larut dalam kebahagiaan sehingga waktu terasa cepat berlalu. Tapi ketika kamu sendirian ditengah euforia lebaran, waktu berjalan amat sangat lambat. Apalagi jika kamu mengisi waktu dengan meratapi keadaan, lebaran yang hanya 2 hari bisa terasa seminggu lebih.

Lebaran terasa sangat lama (imgix.net)

Kamu mungkin berusaha mencari kegiatan yang menyenangkan. Beres-beres kamar, jalan-jalan hingga melakukan hobi yang digemari. Tapi terkadang, kegiatan ini hanya membawa kebahagiaan sementara. Setelah selesai rasa sedih kembali lagi.

Tapi sebenarnya kamu tak perlu terlalu bersedih. Masih banyak kok anak rantau yang tak ikutan mudik seperti kamu. Kumpulkan saja mereka dan ajaklah berpetualang bersama. Agar kamu tetap bisa dapat pengalaman saat lebaran. Jadi, tahun ini mudik nggak?

1k
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Author Erinda

"You can if you think you can"