5 Alasan Kenapa Uang Elektronik Tak Sebaik Uang Tunai

Uang elektronik praktis sih, tapi….

Di era milenial seperti saat ini, peran uang tunai konvensional mulai banyak tergantikan dengan uang elektronik. Terlebih sejak berkembangnya telepon seluler (ponsel) pintar yang membuat urusan transaksi keuangan pun bisa dilakukan secara mobile dengan mudahnya. Berbagai aplikasi lintas platform kini memungkinkan kita untuk tak lagi repot membawa banyak uang tunai. Selain praktis, tentunya juga cepat.

Baca juga : Kalau Sudah Tak Cinta Mending Katakan Saja, Jangan Tunjukkan Dengan Hal-hal Menyakitkan Ini

Bahkan menurut data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi uang elektronik pada tahun 2011 telah mencapai lebih dari Rp 981 triliun dan terus naik menjadi Rp 7.063 triliun di tahun 2016. Meski begitu, ternyata uang elektronik masih punya segudang kelemahan jika dibandingkan dengan uang konvensional. Inilah lima diantaranya.

1. Tak semua merchant melayani uang elektronik

Tidak semua merchant menerima pembayaran dengan uang elektronik – digitalpayment.telkomsel.com

Meski uang elektronik praktis dan mudah digunakan, namun saat ini belum semua merchant menerima metode pembayaran dengan uang elektronik. Ini membuat pemilik uang elektronik jadi tidak maksimal untuk menggunakan kartunya. Belakangan, santer pula terdengar bahwa beberapa sopir dari perusahaan taksi online yang sudah menggunakan uang elektronik justru sengaja menolak pembayaran dengan uang elektronik dengan alasan mereka tidak bisa mendapat uang lebih. Berbeda jika dibayar tunai, maka ada kemungkinan sopir menerima kelebihan uang dari penumpang.

2. Sulit mengecek saldo

Meskipun kamu bisa mengecek saldo melalui ponsel, namun kadang kita lupa saldo terakhir kali sebelum kembali melakukan transaksi – rivaekaputra.com

Untuk menggunakan uang elektronik, pemilik kartu harus melakukan top up saldo secara berkala. Masalahnya, kita jadi susah untuk mengetahui jika saldo habis. Bayangkan jika kamu harus membayar gerbang tol, namun tak tahu kalau saldomu habis. Bukannya kian praktis, kamu malah jadi perlu waktu ekstra karena harus mencari uang tunai sebagai ganti pembayaran.

3. Kartu hilang, uang ikut hilang

Salah satu contoh uang elektronik – treni.co.id

Andaikan kamu kehilangan kartu yang menyimpan data uang elektronikmu, maka itu berarti kamu juga kehilangan uangmu karena uang elektronik tidak bisa diblokir dan tidak bisa diklaim. Selain itu, orang yang menemukan kartumu pun bisa menggunakannya karena tidak memakai PIN (Personal Identification Number). Ini tentu tak seperti ATM yang masih bisa diblokir rekeningnya saat kartu hilang, sehingga uang tetap aman.

4. Mudah tertukar

Kalau polos begini, rawan tertukar bukan? – andrienuno.blogspot.co.id

Selain tidak dilengkapi dengan PIN, kartu uang elektronik pun tidak mencantumkan nama pemilik. Jadi, kartu bisa dengan mudah tertukar atau hilang dengan prosedur pengembalian yang sulit.

5. Merangsang boros

Dengan segala kemudahan yang ditawarkan, uang elektronik merangsang pemiliknya untuk lebih konsumtif – go-pay.co.id

Layaknya kartu kredit, uang elektronik juga berpeluang untuk merangsang pemiliknya jadi lebih boros. Hal ini terjadi karena secara psikologi, kita tidak melihat wujud uangnya dan merasa segalanya serba praktis dengan uang elektronik. Tahu-tahu, pengeluaran untuk terus menambah saldo uang elektronik jadi meningkat terus.

Meski punya bermacam kelemahan, namun banyak kalangan yang memprediksi bahwa penggunaan uang elektronik di masa depan akan sepenuhnya menggantikan uang tunai konvensional. Kalau kamu sendiri, lebih suka uang tunai atau uang elektronik?

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Nyatanya, Pacaran Sama Cowok Pendek Bisa Memberimu 5 Keuntungan Ini

Pada Dasarnya, Mencari Muka di Depan Atasan Adalah Perilaku Sah dan Dihalalkan