Karena Nggak Ada yang Nggak Mungkin, 4 Pedagang Asongan Ini Berhasil Jadi Miliarder

Kamu juga bisa, asal ada kemauan dan kerja keras

Terkadang ada orang-orang yang memang dilahirkan dengan keberuntungan yang menyertainya. Memiliki orang tua yang memang sudah kaya raya dan kemudian mendapat bagian tanpa perlu kerja keras. Tapi banyak juga yang harus berjuang mati-matian hanya untuk mewujudkan impian. Dan kamu harus percaya, kesuksesan terdiri dari 99% kerja keras dan 1% keberuntungan.

Pedagang asongan (beritadaerah.co.id)

Sungguh, 4 orang ini telah membuktikan formula kesuksesan tersebut. Sebelum sukses seperti sekarang, mereka bahkan mengawali kesuksesan ini dengan menjadi pedagang asongan. Namun dengan jerih payahnya, mereka bahkan bisa menggaji banyak orang dengan omzet usaha hingga miliaran rupiah. Nggak percaya? Ini kisahnya.

Nana Mulyana, Pengusaha Alumunium

Sebelum menjadi miliarder seperti sekarang, Nana Mulyana mengawali karirnya dengan berbekal uang 10.000 rupiah dengan hijrah dari Majalengka ke Bandung. Di Bandung, pria kelahiran 14 Juni 1972 ini menjadi seorang pedagang asongan dan terkadang juga menjadi supir tembak. Mulyana juga sempat menjadi kernet angkutan desa, tukang es lilin, pencari rumput untuk pakan ternak, sales, hingga membuka usaha-usaha kecil namun terus saja gulung tikar.

Nana Mulyana, Pengusaha Alumunium (perrytristianto.com)

Uatu ketika, Mulyana menjadi karyawan di perusahaan lampu pijar ternama. Dengan gaji cukup, Mulyana bisa membeli rumah sendiri. Setelah keluar dari pekerjaan Mulyana mencoba membuka usaha elektronik dan hijrah ke Jakarta untuk berguru pada pamannya.

Hingga tahun 1997 Mulyana membuka usaha kerajinan berbahan alumunium di bawah bendera CV Nuansa Aluminium. Saat ini usahanya terus berkembang dan dinamai PT Nuansa Alumunium yang memperkerjakan sekitar 400 karyawan. Dan usaha inilah yang membuat Nana Mulyana mendapat gelar miliarder meskipun nggak sempat lulus SMA.

Ponimin, pemilik sebuah pabrik besar

Ponimin mengawali karirnya dengan hijrah ke Medan dan berjualan roti keliling. Karena hasilnya tak seberapa, ia beralih menjadi penjual tahu keliling. Setiap hari Ponimin mengambil tahu dari pabrik untuk keesokan harinya dijual dengan mengendarai sepeda. Saat bekerja keras inilah Ponimin bertekad untuk menabung dan memulai usahanya sendiri. Hingga 5 tahun kemudian, ia berhasil memulai produksi tahu sendiri.

Ponimin, pemilik sebuah pabrik besar (kaskus.id)

Produksi ini awalnya dikerjakan sendiri. Dengan laku prihatin Ponimin terus mengumpulkan dana untuk kemajuan usahanya. Meskip terus mengalami jatuh bangun, kini Ponimin sudah memiliki pabrik tahu dengan omzet 12 juta lebih perhari.

Sukses dengan pabrik tahunya, Ponimin mencoba usaha lain yaitu rental mobil. Sekarang usaha rental ini telah memiliki kurang lebih 40 armada mobil yang siap melayani pelanggan. Dari bisnisnya, Ponimin bisa mengantongi uang ratusan juta setiap bulannya.

Bang Kiming, karir yang bermula dari gerobak pisang penyet

Nama aslinya Arief Setiawan, lelaki kelahiran 1990 ini memulai karirnya dengan membuka usaha pisang penyet gerobakan saat ia masih menjadi mahasiswa di salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Usahanya ini sempat berkembang hingga memiliki 32 cabang yang tersebar di Indonesia. Sayangnya saat ditinggal kuliah ke Jepang, usaha tanpa pengawasan ini akhirnya bangkrut.

Bang Kiming, karir yang bermula dari gerobak pisang penyet (detik.net.id)

Kegagalan ini tak membuatnya gentar, Arief kemudian membuka usaha toko kelontong, grosir sembako, hingga peternakan kambing dan belut. Sayangnya, kesemua usahanya ini gulung tikar. Tahun 2010 itu coba memulai berjualan sparepart motor besar dengan brand Kiming Motor. Usahanya ini berbuah manis hingga bisa mengimpor komoditi sparepart dari Jepang, Amerika, Italia hingga Inggris. Pengalaman berdagang antar negara ini membuat Kiming memahami seluk beluk trading.

Hingga akhirnya Kiming membentuk PT. Kiming Indotrading Investama yang mencetak omzet lebih dari 2 juta dollar di tahun pertama operasi. Kiming pun kini membuka Kiming Internasional di Jepang. Usaha ini juga bergerak di bidang trading domestik dan Internasional.

Theresia Deka Putri, penjual kopi eceran

Putri mulai mengenal kopi saat ia menjadi penjual kopi eceran. Saat berjualan ini Putri berkeliling dari berbagai tempat di daerah Jawa Timur, untuk menawarkan produk minuman, termasuk kopi dari warung ke warung. Ditolak hingga diabaikan pelanggan sudah sering dialami, namun ini tak menyurutkan semangatnya. Sebelum kopi, Putri juga berjualan produk fashion dengan target teman-teman dekat.

Theresia Deka Putri, penjual kopi eceran (astralife.co.id)

Baru pada tahun 2007, putri mendirikan CV Karya Semesta yang memproduksi kopi. Keahlian membuat kopi yang dimiliki Putri ternyata didapatnya secara otodidak. Karena peralatan yang belum lengkap, Putri terpaksa memakai jasa penggilingan yang ada di luar perusahaan.

Kegigihan Putri kini membuahkan hasil. Pemasaran kopi produksinya telah mampu menembus pasar Malaysia, Taiwan, Polandia, Inggris, hingga Korea Selatan. Selain itu, Putri pun telah memiliki perkebunan kopi sendiri yang luasnya berhektar-hektar.

Kamu mau seperti mereka? Kerja keras adalah kuncinya.

Bagaimana Menurutmu?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Erinda

"You can if you think you can"

Bertahun-tahun Membingungkan Para Ilmuan, Akhirnya Fungsi Lekukan Diatas Bibir Kini Terkuak

Lucunya Candaan Lucu di Setiap Pantat Truk yang Cuma Ada di Indonesia