4 Kampung Unik di Sleman, Yogyakarta Ini Punya Pantangan Tersendiri yang Nggak Dimiliki Kampung Lainnya

Pantangan-pantangan ini masih tak ada yang berani melanggarnya hingga kini

Kalau kamu sedang berlibur dan mengunjungi kota Yogyakarta, coba deh menyempatkan waktu untuk berwisata ke pedesaannya. Masa iya ke mall doang ato seputaran Malioboro aja? Coba deh main ke daerah Sleman yang masih kental dengan kehidupan pedesaannya. Jangan salah, kehidupan pedesaan menawarkan banyak hal menarik yang nggak ada di kota loh!

Baca juga : Kekeliruan Lagu Lingsir Wengi Sebagai Pemanggil Kuntilanak, Inilah Sejarah dan Makna Sebenarnya

Apalagi, Sleman memiliki beberapa dusun atau kampung unik yang masih memegang teguh kepercayaan leluhur, sehingga memberlakukan beberapa pantangan atau aturan untuk tidak melakukan hal yang dilarang sejak dahulu kala. Kampung apa saja dan pantangan apa sajakah yang unik tersebut? Yuk kita simak bersama!

1. Dusun Kregolan melarang adanya pagar

Dusun pertama yang akan kita bahas adalah dusun Kregolan di daerah Margomulyo, Seyegan, Sleman. Menurut bahasa setempat, Kregolan diambil dari kata ‘Regol’ yang berarti pagar. Konon, ada juga yang mengatakan bahwa dusun ini didirikan oleh orang bernama Mbah Siregol sehingga namanya diabadikan sebagai nama kampung.

Dusun Kregolan yang melarang adanya pagar di rumah (krjogja.com)

Pantangan unik di dusun ini adalah larangan untuk mendirikan rumah dengan regol atau pagar. Entah apa alasannya, namun warga mengatakan tidak ingin kualat karena membuat pagar disebut-sebut akan menyamai nama Mbah Siregol. Filosofi lainnya, warga yakin jika keberadaan pagar justru membuat kebersamaan antar warga jadi berkurang. Pagar atau regol dianggap sebagai bangunan sekat pemisah yang membatasi antar tetangga.

2. Dusun Ngino dan pantangan membuat sumur

Di Barat Daya Sleman, ada Dusun Ngino yang tepatnya berada di wilayan Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan. Keunikan dusun ini adalah warganya dilarang untuk membuat sumur dan menanam sirih. Konon, pantangan itu bermula dari pertemuan sosok sesepuh dusun bernama Mbah Bregas dengan Sunan Kalijaga. Saat asik ngobrol soal agama hingga dini hari, Sunan Kalijaga melihat ada warga yang tengah mengambil air di sumur dan mengira orang itu hendak mengambil air wudhu untuk shalat Subuh.

DI dusun Ngino, kita tidak akan menemukan sumur ataupun tanaman sirih karena keduanya menjadi pantangan desa (otonomi.co.id)

Ketika Sunan Kalijaga bermaksud mengakhiri obrolan dan ikut mengambil air untuk wudhu, Mbah Bregas dengan sungkan mengatakan bahwa orang tadi tidaklah mengabil air untuk wudhu, melainkan untuk menyiram ladangnya. Karena merasa bersalah atas kesalahpahaman itu, ia pun kemudian melarang warga sekitar untuk memiliki sumur di rumah mereka. Sedangan pantangan menanam sirih konon karena warga menghormati kebiasaan Mbah Bregas yang gemar mengunyah daun sirih (nginang dalam bahasa Jawa, sekaligus menjadi asal nama dusun Ngino). Hingga kini, tak ada warga yang berani melanggar kedua pantangan tersebut.

3. Warga dusun Kasuran tak boleh tidur beralaskan kasur

Masih dari kawasan Barat Daya kabuaten Sleman, tersebutlah nama dusun Kasuran yang masuk ke dalam wilayah Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan. Warga di dusun ini memiliki pantangan unik, yakni tidak diperbolehkan untuk tidur dengan menggunakan alas kasur. Nggak heran kalau nama dusun ini pun dinamai Kasuran.

Pedagang kasur keliling pasti memilih untuk menghindari dusun ini (jogjakini)

Asal-muasal pantangan ini konon terkait dengan perjalanan Sunan Kalijaga yang bertemu Kyai Kasur di dusun yang semula tak bernama itu. Sesepuh kampung ini pun menjamu sang Sunan dan menyediakan kasur untuk beristirahat. Beberapa waktu kemudian, Sunan Kalijaga ingin menunaikan shalat. Ia heran karena tak ada warga yang mendirikan shalat selain Kyai Kasur. Beliau pun lantas berpesan pada Kyai Kasur untuk memperingatkan warganya agar tidak bermalas-malasan tidur di atas kasur dan meninggalkan shalat. Sejak itulah warga setempat tak berani tidur beralaskan kasur. Mereka meyakini jika pantangan itu dilanggar, maka akan berdampak buruk bagi mereka.

4. Dilarang mendirikan rumah berdinding tembok di dusun Beteng

Dusun Beteng yang terletak di Kelurahan Margoagung, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman ini memiliki pantangan membangun rumah berdinding tembok. Sebagai gantinya, warga membangun rumah-rumah mereka dengan dinding kayu atau bambu. Menurut cerita, hal ini terkait dengan kisah perjuangan Pangeran Diponegoro saat melawan Belanda dulu. Syahdan, Margoagung dulunya dikenal sebagai basis pertahanan Diponegoro yang dilengkapi oleh benteng gaib.

Tak ada bangunan bertembok bata di dusun Beteng (krjogja.com)

Meski masyarakat sekitar tak bisa melihatnya, namun kabarnya pasukan Belanda yang masuk kawasan Margoagung seolah melihat benteng besar dengan ribuan pasukan. Jika nekat menyerbu, mereka bisa tewas, termasuk kuda yang ditunggangi para pasukan Belanda. Inilah yang membuat warga enggan mendirikan rumah berdinding tembok karena takut akan terjadi marabahaya bagi dirinya maupun warga sekitar.

Bagaimana Menurutmu?

Written by Dozan Alfian

Dozan Alfian

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~

Yuk, Kita Sama-Sama Ngomentarin Judul Absurb Film-Film Horor Indonesia

Sudah Bayar Makanan dan Pajak Restoran, Kenapa Kita Masih Harus Bayar Biaya Pelayanan?