4 Alasan Kenapa Bisnis Oleh-Oleh Khas Daerah dari Para Artis Itu Nggak Banget

Gara-gara Teuku Wisnu, para artis kini berlomba-lomba jadi pedagang kue

151
SHARES

Saat kita melancong ke luar kota, pastinya ada keinginan untuk membawakan buah tangan bagi orang-orang tercinta yang menanti di rumah, bukan? Biasanya, kita cenderung untuk membawakan oleh-oleh berupa makanan khas dari daerah yang kita datangi. Jika berkunjung ke Yogyakarta, maka Bakpia yang kerap jadi pilihan. Begitu pula saat menginjakkan kaki di Makassar, Otak-otak ikan Tengiri tentunya jadi buah tangan yang sayang dilewatkan.

Namun kini semua itu bisa berubah. Bakpia yang kini punya banyak varian rasa, bisa jadi kurang kekinian jika dibandingkan dengan Jogja Scrummy. Begitu pula dengan Otak-otak ikan Tengiri yang mungkin jadi terlihat kuno jika bersanding dengan Makassar Baklave. Yak, nama-nama baru yang jauh dari kesan kedaerahan tersebut kini marak dijumpai di berbagai daerah. Uniknya, masing-masing mendompleng nama besar insan selebritas sebagai branding-nya. Tetap saja, bisnis oleh-oleh khas daerah dari para artis itu adalah hal yang nggak banget. Kenapa? Check these out!

1. Jauh dari unsur kearifan lokal

Saat ini, kurang lebih ada 18 oleh-oleh khas daerah yang menggunakan nama artis sebagai salah satu poin jualannya. Misalkan saja Teuku Wisnu dengan Strudel Malang, Dude Herlino dengan Jogja Scrummy, maupun Zaskia Sungkar dengan Snowcake Surabaya. Melalui nama besar mereka, tak heran jika oleh-oleh khas daerah nan kekinian tersebut laris manis tanjung kimpul.

Lamington Pontianak dari Glenn Alinskie – @LamingtonPTK

Sayangnya, meski mengusung semangat kedaerahan, oleh-oleh tersebut justru jauh dari kearifan lokal karena makanan khas yang ditawarkan menganut gaya pastry Barat. Tengok saja Makassar Baklave yang sebenarnya adalah penganan khas Turki maupun Lamington Pontianak yang merupakan cake asal Australia.

2. Kurang menggali potensi khas suatu daerah

Masih terkait dengan poin nomor satu, masing-masing artis dan produk makanan khasnya mengaku bahwa mereka telah menyesuaikan produknya dengan lidah Indonesia. Mengambil contoh Makassar Baklave yang aslinya merupakan makanan khas Turki, di negara asalnya, Baklave memiliki ciri khas penggunaan kacang walnut atau pistache. Penambahan madu khas Turki membuat rasa Baklave berbeda dengan kue pastry sejenis.

Baklave punya standar tersendiri di negara asalnya, Turki – makassarbaklave.com

Saking banyaknya yang menduplikasi Baklava, Turki bahkan membuat standarisasi untuk oleh-oleh khasnya tersebut. Jika demikian, bukankah lebih kedaerahan jika Baklave ala Makassar ini tak sekedar menyesuaikan rasa dengan lidah lokal, namun juga menggunakan base cake khas daerah semisal Bolu Peca, Cucuru Bayao atau sekalian Bludder? Hehe..

3. Nyaris seragam

Salah satu hal yang membuat sebuah makanan khas daerah jadi benar-benar berbeda dari lainnya adalah karena keberadaannya yang eksklusif. Misalkan saja Pempek khas Palembang yang belum tentu bisa dibuat di kota lain dengan rasa yang sama eksotisnya karena perbedaan ketersediaan bahan baku.

Kebanyakan konsep makanan daerah ala artis berupa cake dan pastry – scrummyonline.com

Hal inilah yang tidak ada di oleh-oleh khas daerah dari para artis. Makanan daerah ala artis ini kebanyakan konsep dasarnya nyaris seragam, yakni kue (cake) yang dipadukan dengan pastry. Hal yang membedakan hanya soal penempatan atau posisi pastry terhadap cake, juga bentuk utuhnya.

4. Menggeser yang benar-benar khas

Sebenarnya sah-sah saja jika para artis memanfaatkan aji mumpung mendulang Rupiah dengan berbisnis oleh-oleh khas daerah. Namun dengan melabeli produk mereka dengan sesuatu yang khas dari daerah tertentu, bukan tak mungkin jika makanan khas daerah itu justru tergeser keberadaannya dan hilang dari peradaban.

Laudya Chintya Bella dan Makuta Bandung – bandung.merdeka.com

Apalagi dengan tampilan makanan khas ala artis yang harus diakui lebih cantik dan menggoda daripada makanan khas daerah, generasi milenial nampaknya bakal lebih memilih Makuta Bandung dari Laudya Chintya Bella ketimbang Surabi, misalkan. Maklum guys, kue-kue kekinian itu jauh lebih menarik untuk diposting di Instagram ketimbang makanan daerah yang tampilannya masih konvensional, bukan?

Lantas, bagaimana dengan kamu sendiri, lebih suka untuk mengudap makanan khas daerah yang terbilang kuno atau justru menjadi penggemar kuliner kekinian para artis tersebut?

151
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Tidak peduli pada jumlah followers di media sosial, hanya tertarik pada uang dan kekuasaan~