4 Aksi Heroik yang Hanya Bisa Dilakukan Pasukan Elit Indonesia

Pokoknya bangga!!!

8
SHARES

Sampai saat ini, mungkin kamu hanya mengenal Kopassus sebagai satu-satunya pasukan elit NKRI. Padahal nyatanya, masih ada pasukan elit lain yang tak kalah mentereng dari mereka, sebut saja Denjaka, Detasemen 88, Kopaska, Den Bravo 90, dan lain-lain. Mereka semua berkompeten, dan mempunyai sederet prestasi yang sangat membanggakan.

rasuk.news
rasuk.news

Berikut ini adalah empat aksi yang mungkin paling heroik yang pernah ditorehkan oleh empat satuan elit kebanggaan Indonesia, dari Kopassus sampai Kopassandha.

1. Kopassus, Marinir, dan Paskhas (Ambon, 2001)

Kamu masih ingat tragedi kerusuhan di Ambon pada tahun 2001? Ternyata, kerusuhan tersebut juga dimanfaatkan oleh sejumlah oknum untuk semakin memperkeruh suasana. Tak membutuhkan waktu lama, pemerintah pusat mengirim pasukan gabungan yang terdiri dari Kopassus, Marinir dan Paskhas.

cloudfront.net
cloudfront.net

Kedatangan pasukan gabungan itu memaksa para oknum pemberontak untuk melakukan serangan secara membabi buta. Dan setelah terjadi banyak pertempuran, akhirnya Kapten Nyoman Cantiasa, pemimpin Kopassus dalam satuan itu mengetahui bahwa markas utama milisi Ambon berada di Hotel Wijaya ll.

Bersama Marinir, dan Paskhas, Kapten Cantiasa dan para pasukannya langsung melakukan sapu bersih di sekitar Hotel Wijaya ll dan berhasil masuk ke dalam gedung. Hanya membutuhkan waktu 2 jam bagi mereka untuk menduduki markas itu dan mengamankan situasi.

2. RPKAD, PGT, dan TNKU (Kalimantan Utara, 1963-1964)

Indonesia dan Malaysia terlibat konfrontasi di wilayah Kalimantan Utara pada tahun 1963. Mengetahui hal itu, TNI mengirim pasukannya untuk membantu Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) untuk melawan tentara Malaysia.

asalcoret-holic.blogspot.co.id

Tak tanggung-tanggung, pasukan bantuan itu ternyata gabungan dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang berganti nama menjadi Kopassus dan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dari TNI AU. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, kedua pasukan elit ini mengenakan seragam hijau milik TNKU dan memalsukan identitas mereka.

Setelah terjadi pertempuran dan tentara Malaysia terdesak, mereka meminta bantuan Inggris dan secara langsung mengirimkan satu batalyon pasukan elit yang sangat disegani di dunia, Special Air Service (SAS). Untuk memperkuat pasukan, Inggris juga mengirim pasukan Gurkha dan menambahkan personel SAS dari Selandia Baru dan Malaysia.

Pada tanggal 10 Juli 1964, terjadi kontak senjata antara satu peleton RPKAD, PGT, dan TNKU melawan 2 peleton SAS dan Gurkha. Hasilnya? 20 prajurit Gurkha tewas dan tidak seorang pun dari tentara Indonesia yang menjadi korban!

3. Kopaska (Kalimantan Utara, 2005)

Sebuah insiden kecil namun mengancanm teritorial Indonesia terjadi pada tahun 2005 lalu. Dalam insiden itu, dua kapal TLDM dan Marine Police Malaysia mencoba merapat dan menenggelamkan jangkar karena ingin berlabuh di dekat mercusuar Karang Unaran, Kalimantan Utara.

cloudfront.net
cloudfront.net

Meskipun sudah mendapat peringatan dari TNI AL melalui KRI Tedong Naga yang saat itu sedang melakukan patroli, namun kedua kapal itu tidak mengindahkan dan tetap berada di tempat. Mendapat respon yang tidak pantas itu, Komandan KRI Tedong Naga meminta bantuan pasukan Kopaska yang dipimpin oleh Lettu Berny.

Bukan puluhan bahkan ratusan anggota Kopaska yang datang untuk mengusir kapal TLDM dan Marine Police Malaysia, namun hanya berjumlah tiga prajurit saja. Mereka adalah Serka Ismail, Serda Muhadi dan Kelasi Satu Yuli Sungkono.

Untuk mengalihkan perhatian, Serka Ismail memerintahkan agar motor boat yang dikendarai ketiganya melaju secara zigzag. Strategi berjalan lancar, para awak kedua kapal negeri Jiran itu terpancing untuk terus mengamati pergerakan motor boat. Di saat yang bersamaan, Serka Ismail menyelam untuk mendekati salah satu kapal dan masuk secara diam-diam.

Tanpa senjata Serka Ismail mendobrak pintu kapal dan menyuruh semua awak kalal untuk segera meninggalkan wilayah Indonesia. Meskipun sempat terjadi ketegangan, Serka Ismail berhasil memaksa kapal TLDM dan Marine Police Malaysia kembali ke negaranya.

 

4. Para-Komando Kopassandha (Thailand 1981)

Pada tahun 1981, terjadi aksi pembajakan pesawat Garuda Indonesia Penerbangan 206 atau DC-9 Woyla yang dilakukan oleh 5 orang teroris pimpinan Imran bin Muhammad Zein, anggota kelompok Islam radikal bernama Komando Jihad. Pesawat tersebut merupakan pesawat reguler yang berangkat dari jakarta pada pukul 08.00 WIB yang kemudian transit di palembang untuk terbang kembali ke Palembang.

cloudfront.net
cloudfront.net

Sayangnya, 5 teroris bersenjata api dan membawa bahan peledak membajak dan menyandera seluruh penumpang saat pesawat sedang menuju Palembang. Pesawat itu akhirnya dipaksa transit di Penang, Malaysia untuk mengisi bahan bakar dan kembali terbang menuju Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, yang rencananya akan diteruskan ke Libya.

Mengetahui pembajakan itu, 35 pasukan elit TNI AD yang baru saja dibentuk dan tidak memiliki pengalaman dalam penanganan teror bernama Para-Komando Kopassandha (sekarang bernama Kopassus) berangkat ke Thailand dengan mengenakan pakaian sipil.

Sesampainya di Thailand, pasukan yang dibagi menjadi tiga tim (Tim Merah, Tim Biru dan Tim Hijau) itu menolak bantuan jaket anti-peluru yang ditawarkan oleh CIA dan langsung menuju lokasi pembajakan.

Setelah Tim Hijau berhasil mengamankan pintu belakang pesawat dan masuk, Tim Biru dan Tim Merah langsung menerobos masuk hingga sempat terjadi baku tembak. Tak menunggu lama, aksi pembajakan yang dikenal sebagai Peristiwa Woyla itu akhirnya berhasil digagalkan.

8
SHARES
Bagaimana Menurutmu?

Penulis artikel dan sastra. Penemu dari sebuah konsep sederhana: "Kita tidak pernah tahu seberapa jauh bisa berubah. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih baik, kita tidak akan pernah menyesal."